<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466</id><updated>2011-12-03T16:10:33.384-08:00</updated><category term='perjalanan wisata'/><category term='social media'/><category term='Politik Kebudayaan'/><category term='pelajaran moral'/><category term='kuliner Purwokerto'/><category term='Pendidikan untuk Anak Kita'/><category term='seni budaya'/><title type='text'>Puad Hasan - on the Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-2370677960991609678</id><published>2011-12-02T20:55:00.001-08:00</published><updated>2011-12-02T21:28:28.787-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan wisata'/><title type='text'>Universal Studio - industri kreatif Singapura</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oKtdVW4tgoo/TtmyKW-VvcI/AAAAAAAAAHk/CchqyuWch-c/s1600/IMG_0269.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-oKtdVW4tgoo/TtmyKW-VvcI/AAAAAAAAAHk/CchqyuWch-c/s200/IMG_0269.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Universal Studio menjadi salah satu daya tarik Singapura. Tulisan ini semata ingin menunjukkan bagaimana pengelolaan obyek wisata dilakukan profesional. Universal Studio kesan saya menampilkan miniatur berbagai peradaban baik kuno dan modern, fantasi maupun faktual. Gabungan masa lalu dan masa kini, tradisional dan modern, imajinasi dan realita. The lost world, jurassic park, shrak (maaf kalau salah tulis) adalah fantasi-fantasi masa lalu dan juga masa kini. Spink, piramida adalah bagian peradaban masa lalu, namun Hollywood dan New York adalah ciri kemodernan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersih adalah ciri utama Singapura, tak terkecuali Universal Studio. Keteraturan dan disipin juga tercermin di sini. Satu pengalaman unik, ketika seorang teman mencoba menjual tiket lebih (karena beberapa orang anggota rombongan tidak jadi berangkat ke Universal Studio dan tiket sudah dibeli jauh hari sebelumnya) kepada calon pengunjung lain, ketika sedang menawarkan tiket dengan diskon kepada orang Malaysia, begitu ketahuan oleh petugas langsung diingatkan untuk membeli tiket di loket resmi. Percaloan dilarang.... dan temanku tersipu malu. "Ketahuan kalau Indonesia banget" (he3.... maaf jangan ada yang tersinggung ya, ini fakta bahwa di negeri kita praktek percaloan masih ada, dan saya setuju itu bukan praktek yang baik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-82E1zyGPb34/Ttmy75rZwvI/AAAAAAAAAHs/LSwTK-FnqW4/s1600/IMG_0341.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/-82E1zyGPb34/Ttmy75rZwvI/AAAAAAAAAHs/LSwTK-FnqW4/s200/IMG_0341.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Universal Studio adalah bagian dari indutri kreatif Singapura saya kira. Ketika negeri ini tidak punya keindahan alam (pantai, gunung, gua) untuk dijual kepada wisatawan, atau peninggalan sejarah monumental (seperti candi, bangunan kuno, situs,dll) maka membuat bangunan baru dengen mengimitasi peradaban dunia adalah pilihan tepat. Sama seperti kreatifitas Singapura&amp;nbsp; menggelar balapan F1 di jalanan kota Singapura. Tidak perlu membangun sirkuit, karena lahan yang&amp;nbsp; terbatas, namun&amp;nbsp; highway disulap menjadi track balapan yang tersohor ke seluruh penjuru dunia, dan penggila balapan datang ke negara&amp;nbsp; kota&amp;nbsp; ini. Selain tentunya menjadi sangat&amp;nbsp; terkenal karena F1&amp;nbsp; disiarkan televisi ke seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kehilangan kecintaan pada negeri sendiri Indonesia, kita tidak perlu malu belajar&amp;nbsp; hal yang baik dari negeri tetangga.... (awal Des 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-2370677960991609678?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/2370677960991609678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/12/universal-studio-industri-kreatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/2370677960991609678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/2370677960991609678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/12/universal-studio-industri-kreatif.html' title='Universal Studio - industri kreatif Singapura'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-oKtdVW4tgoo/TtmyKW-VvcI/AAAAAAAAAHk/CchqyuWch-c/s72-c/IMG_0269.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-5318704606895385316</id><published>2011-10-21T21:17:00.000-07:00</published><updated>2011-12-03T01:49:15.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuliner Purwokerto'/><title type='text'>Kawasan Kuliner GOR Purwokerto – serasa bukan di Purwokerto</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0mgwioxoG10/TqJDCoA_uJI/AAAAAAAAAGI/w5tOkgz4Vfk/s1600/324531halal-food.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="153" src="http://1.bp.blogspot.com/-0mgwioxoG10/TqJDCoA_uJI/AAAAAAAAAGI/w5tOkgz4Vfk/s200/324531halal-food.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kayak bukan di Purwokerto”.&amp;nbsp;B egitu komentar anak gadisku Nida saat&amp;nbsp;melintas di jalan sepanjang&amp;nbsp; depan&amp;nbsp;GOR Satria Purwokerto. Ya, malam itumalam minggu, begitu banyak mobil parkir berjejer di situ. Ramai kendaraan dantentu saja orang, ditambah bunyi sempritan tukang parkir yang seakanbersahut-sahutan, menambah suasana malam itu seperti bukan di Purwokerto, yangselama ini dikesankan sepi dengan arus lalu lintas teramat lancar.&amp;nbsp; Ada apa di ‘daerah’ GOR memangnya?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kawasan GOR secara alamiah sudah berkembang menjadi areakuliner kota Purwokerto. Dikatakan alamiah karena tidak ‘by design’ olehpemerintah saya kira. Kawasan ini tumbuh mengikuti&amp;nbsp; ‘ hukum pasar’ perkembangan suatu kawasan.Ada permintaan akan kawasan kuliner dimana orang bisa memilih tempat danmenu/jenis makanan yang sesuai selera, &amp;nbsp;dan para pengusaha merespon dengan membangunkawasan menjadi sederatan ruko atau bangunan yang memang didesign untuk sebuahrumah makan/resto. Tidak pernah terdengar sebelumya bahwa kawasan&amp;nbsp; GOR &amp;nbsp;secara sengaja didesign sebagai kawasankuliner kota Purwokerto.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sejarahnya bisa dirunut dari dimulainya pemindahan pusatkeramaian public dari alun-alun ke kawasan GOR. Terlebih sejak upaya PemkabBanyumas merenovasi alun-alun dan mensterilkannya dari pedagang kaki lima. Makahari Minggu pagi kegiatan ‘jalan-jalan’ warga berpindah dari alun-alun ke GOR.Maka, para pedagang kaki lima pun berpindah mengikuti keramaian ini. adapedagang bubur ayam, nasi pecel, gudeg, mendoan dll yang menggunakan tenda dipinggir jalan. Lama-lama tidak hanya saat hari minggu mereka buka. Tiap pagimereka mangkal di situ.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nah melihat suasana makin ramai, maka beberapa pengusahamulai membangun rumah makan permanen di situ dengan jam buka siang hinggamalam. Maraknya bisnis waralaba, termasuk di bidang kuliner, menambah ramai bisniskuliner di kawasan ini. Sekarang anda bisa datang ke kawasa itu dan mau makanapa yang anda inginkan ada di situ: ayam, lele, iga, gudeg, bebek, ikan, sampaimenu makanan yang tradisional Banyumas seperti tahu kupat, soto,mendoan dll.Jadilah kawasan GOR menjadi kawasan kuliner lengkap di kota satria Purwokerto.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kawasan ini akan bertambah ramai dan harga tanah pastimelambung. Ditambah dengan pembangunan hotel bintang empat di perempatan DKT–hanya 500 meter dari kawasan GOR—selain hotel yang sudah exist, dipastikanakan menjadi tempat yang semakin ramai. Ke depan orang akan merasa sayang kalauke Purwokerto tidak mampir ke kawasan GOR. Tentu saja masih ada kawasan kulinerlain, namun bersifat khusus seperti di Jalan Bank yang terkenal dengan ‘sotojalan bank’-nya atau Sokaraja dengan soto Sokarajanya dan gethuk gorengnya.Juga Sawangan kalau Anda ingin membeli mendoan untuk oleh-oleh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jadi untuk urusan makan, anda tidak perlu bingung lagi pergikemana. Datang saja ke kawasan GOR, maka tentukan di situ anda mau makan apa? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mutiara Pratama, 22 Oktober 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-5318704606895385316?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/5318704606895385316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/10/kawasan-kuliner-gor-purwokerto-serasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/5318704606895385316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/5318704606895385316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/10/kawasan-kuliner-gor-purwokerto-serasa.html' title='Kawasan Kuliner GOR Purwokerto – serasa bukan di Purwokerto'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-0mgwioxoG10/TqJDCoA_uJI/AAAAAAAAAGI/w5tOkgz4Vfk/s72-c/324531halal-food.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Purwokerto, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.431518 109.247398</georss:point><georss:box>-7.4472635 109.22765700000001 -7.415772499999999 109.267139</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-1583785260813502973</id><published>2011-07-23T08:04:00.000-07:00</published><updated>2011-12-02T20:41:33.634-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan untuk Anak Kita'/><title type='text'>ST-12 (setelah tahun ke 12)  TK Istiqomah dan LPPM Putra Galuh</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-oEOlbXTkUlw/TiriiwksgdI/AAAAAAAAAGE/r47No-yaIO0/s1600/03022008245.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-oEOlbXTkUlw/TiriiwksgdI/AAAAAAAAAGE/r47No-yaIO0/s200/03022008245.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Nida - salah satu murid pertama&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sudah memasuki tahun ke 12 TK Al Istiqomah yang dikelola Yayasan LPPM Putra Galuh berdiri, ikut 'mencerdaskan bangsa' (mudah-mudahan) khususnya anak-anak Galuhtimur Tonjong Brebes Jawa Tengah. What next? Apa yang akan diperbuat lagi oleh LPPM Putra Galuh selain pendidikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilas balik ke tahun 1999, ketika anak kedua saya menjelang masuk TK, tahun itu belum ada TK di Galuhtimur. Adanya di Bumiayu (8 km) dan Tonjong (sama- 8 km dari desa Galuhtimur). Terdorong ingin ikut peduli dengan masa depan anak-2 Galuhtimur, maka memberanikan diri mendirikan taman kanak-kanak (TK) sendiri. Saat itu kebetulan ada himbauan agar&amp;nbsp; setiap desa minimal ada satu TK. Maka ide ini saya share ke teman-2 (saat&amp;nbsp; itu Muslih H Hasanudin), M Najib Ronas (teman semasa SD yang sukses jadi pengusaha di Bandung), dll. Gayung bersambut, maka singkat kata karena belum ada gedung, pinjam kelas di madrasah diniyah Ta'alumushibyan yang hanya dipakai sore hari (sekolah khusus agama Islam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gurunya pertama kali Ibu Murniati (janda dari alm guru saya di SD Pak Soemarso) yang punya pengalaman mengajar dulu di TK yang sempat ada di tahun 70-an tapi kemudian tidak bertahan. Lalu Ulfi (adik dari M Najib, putra tokoh agama alm H Sya'roni Manan). Sebagai pembelajaran awal dari pengelola dan calon guru, maka dilakukan study banding ke RA Masyithoh Fatayat NU Bumiayu (pimpinannya kalau tidak keliru keluarga alm Basori, tokoh kharismatik nahdliyin Bumiayu). Ini tentu karena kedekatan keluarga alm Sya'roni Manan dengan keluarga alm Bashori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya berdiri adalah RA (raudlatul atfhal), namun seiring berjalannya waktu, dan diskusi di antara pengurus maka berubah menjadi TK. Beda RA dan TK: tidak ada bedanya secara pembelajaran, hanya saja secara birokrasi RA di bawah pembinaan Depag, sedangkan TK di bawah Diknas. Sekalipun di bawah Diknas, kurikulum TK Al Istiqomah boleh dikatakan kurikulum plus karena tetap memasukan pelajaran agama, khususnya Iqra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun gedung sendiri&lt;br /&gt;Memasuki tahun ke tiga, dirasa perlu memiliki gedung sendiri. Maka berundinglah pengurus dengan HM Yusuf kepala desa Galuhtimur, untuk menyediakan tanah lokasi pembangunan TK. Dan berdasarkan rapat BPD saat itu sebagai instansi tertinggi tingkat desa, maka TK Istiqomah diberi ijin membangun di tanah yang juga terdapat SD Negeri Galuhtimur 1. Lobi-2 dengan pihak SD cukup alot, karena berbagai kepentingan. Namun akhirnya karena tujuan TK ini adalah untuk umum dan bukan untuk keuntugan pribadi, maka semua legawa.&lt;br /&gt;Alhamdulillah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pembangunan gedung, TK sudah secara resmi dikelola yayasan Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Putra Galuh, sebagai payung penyelenggaraan pendidikan. LPPM ini didirikan awalnya bukan hanya mengelola TK, tapi juga pemberdayaan masyarakat desa di bidang2 lain, ekonomi dan pertanian misanya. Sayang baru pendidikan yang dkelola, itupun hanya baru TK. Pernah ada pembuatan SIM massal murah, kerja sama dengan Polres Brebes yang cukup fenomenal. Ali&amp;nbsp; Rojihi, saat itu masih aktif sebagai wartawan, berperan dalam lobby ke Polres Brebes untuk sukses event ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LPPM didirikan saya, M Najib Ronas, Ali Rojihi, A&amp;nbsp; Rofi'i, Misbahul Munir, Muslih dan ikut terlibat juga Khoirul Umam putra (alm) A Mufid. Beberapa tahun kemudian memasukkan Muhaimin sebagai pengurus. Idealisme saat itu adalah bagaimana para sarjana di Galuhtimur mengimplementasikan kepedulian terhadap kemajuan desa dengan tindakan nyata. Selain lewat&amp;nbsp; pendidikan, juga lewat pemberian contoh bertani yang baik (pemberdayaan), kursus-2 ketrampilan, pengembangan usaha dan ide-2 lain yang intinya memberdayakan masyarakat ke arah kemajuan. Penanaman pisang percontohan pernah dicoba, namun tidak berlanjut karena Umam yang insinyur pertanian harus bekerja di luar kota. Kebun milik saya ditanami aneka jenis pisang sbg wujud percontohan, namun tidak dikelola dengan baik karena alasan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tantangan harus dilalui untuk terus mempertahankan keberadaan TK dan yayasan. Pembuktian bahwa ini semata-mata bentuk kepedulian terus ditunjukkan, karena dari pengelolaan pendidikan ini, secara materi, sama sekali bukan tujuan karena kami berprinsip ini adalah ladang amal. Di sisi lain, Alhamdulillah kemudian terbentuk satu TK lagi yang dikelola yayasan lain, sehingga memungkinkan anak-anak usia TK di Galuhtimur lebih banyak yang mengenyam pendidikan pra SD. Tidak mungkin TK Istiqomah menampung semua anak usia TK karena lokal yang terbatas. Ini adalah berkah bagi masyarakat Galuhtimur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini setelah 12 tahun, setelah beragam prestasi di tingkat kecamatan dan kabupaten ditorehkan TK Istiqomah, dari mulai hanya meminjam madrasah hingga memiliki gedung sendiri yang layak untuk ukuran TK di kampung, apa yang harus diperbuat agar lebih berkualitas lagi? Dan dari sisi pemberdayaan, apa yang akan diperbuat LPPM Putra Galuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan Ekonomi? Dari mana harus memulai? &lt;br /&gt;Tanggal 23 Juli 2011 menjadi tonggak, mudah-mudahan, bagi 'pengabdian' selanjutnya. Hari ini terbentuk cikal bakal koperasi dengan nama "Berkah Sejahtera". Wali murid TK menjadi anggota pertama, sekaligus pendiri koperasi. Idealnya dari koperasi ini nantinya akan mendorong kegiatan produksi home industri yang ada di desa, dengan penyediaan modal dan bimbingan teknis yang diperlukan. Tantangan cukup berat karena kecenderungan koperasi lebih dianggap sebagai 'tempat meminjam' kebutuhan konsumtif. So, edukasi menjadi hal yang perlu diprioritaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Juli 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-1583785260813502973?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/1583785260813502973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/07/st-12-setelah-tahun-ke-12-tk-istiqomah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/1583785260813502973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/1583785260813502973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/07/st-12-setelah-tahun-ke-12-tk-istiqomah.html' title='ST-12 (setelah tahun ke 12)  TK Istiqomah dan LPPM Putra Galuh'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-oEOlbXTkUlw/TiriiwksgdI/AAAAAAAAAGE/r47No-yaIO0/s72-c/03022008245.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-6525992109513283191</id><published>2011-03-28T11:57:00.000-07:00</published><updated>2011-12-02T20:41:59.323-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan wisata'/><title type='text'>Bencana Menuai Pariwisata (-- Erupsi Merapi)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Sp0R4z30G3U/TZDV9x0e6_I/AAAAAAAAAFw/N9MJTxCkBqw/s1600/IMG00035-20110327-1020.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-Sp0R4z30G3U/TZDV9x0e6_I/AAAAAAAAAFw/N9MJTxCkBqw/s320/IMG00035-20110327-1020.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;"&gt;Minggu 27 Maret 2011. Jogja pagi itu diguyur hujan. Namun tidak menyurutkan niat untuk melihat dari dekat dusun Kinahrejo, kampung Mbah Maridjan (alm) di lereng Merapi.&amp;nbsp; "Kalau di bawah (kota) hujan, biasanya di atas terang", kata Wildan, si sulung memberi semangat. Seperti apa sih bekas muntahan perut Merapi, apa yang bisa dipelajari dari fenomena alam ini dan secara sosial bagaimana masyarakat (korban) melakuan recovery? Begitu kira-kira 'pembenaran' langkah 'wisata' ke Kinahrejo. Saran salah seorang kawan untuk pergi ke pantai di Gunung Kidul pun sementara diabaikan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Semasa kuliah di tahun 80-an akhir pernah ke sana dalam rangka pelatihan / camping UKI Jama'ah Shalahuddin UGM. Kala itu jalan menuju Kinahrejo masih berupa makadam. Kalau kemarau berdebu dan kalau hujan becek. Suasana asri, dengan udara segar dengan pemandangan hutan pinus yang menjulang menapak langit. Ketika itu belum muncul tokoh Mbah Maridjan (mungkin sudah menjadi juru kunci hanya saja belum menjadi bintang iklan dan jadi berita media mengenai sikap 'kekeuh'nya pada penjagaan Merapi sesuai yang dipahaminya).&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidak membutuhkan waktu lama berkendara ke lokasi 'wisata erupsi Merapi'.&amp;nbsp; Mungkin sekitar&amp;nbsp; 20-an menit dari Jogja. Jalan ke sana sudah aspal, dan cukup untuk bus tiga perempat bahkan bis pariwisata besar. Sekitar&amp;nbsp; 2 km sebelum lokasi 'bencana', ada pos 'retribusi'. Para penjaga pos --tampaknya dari warga&amp;nbsp; setempat dan bukan petugas dari dinas Pariwisata --&amp;nbsp; berseragam kaos kuning dan menyapa dengan ramah. Ada beberapa polisi ikut mengawasi (?).Untuk dewasa dikenai Rp. 3000,- dan parkir mobil Rp. 5000. "Sekalian diniati nyumbang", kata saya dalam hati. &lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ScVc9nkgUl0/TZDVxhvskRI/AAAAAAAAAFs/AT4LdeeMgIU/s1600/IMG00032-20110327-1013.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://1.bp.blogspot.com/-ScVc9nkgUl0/TZDVxhvskRI/AAAAAAAAAFs/AT4LdeeMgIU/s640/IMG00032-20110327-1013.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dan segeralah muncul pemandangan pohon-pohon yang merenggas, dengan ranting tanpa daun. Namun beberapa pohon sudah mulai 'beremi', tampak hijau daun muncul dari batang dan ranting yang terkelupas kulit kayunya.....&amp;nbsp; mengingatkan pada hiasan pohon dengan daun imitasi. Di sini asli daun tentunya. Sebuah pemandangan yang selaras&amp;nbsp; dengan semangat penduduk setempat untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana.&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seperti yang pernah terlihat di TV, gambar-2 yang di up load di internet, maka saya melihat dengan kepala mata sendiri bangkai motor, mobil, dan reruntuhan bangunan rumah. Dan hamparan hijau kebun sayur atau rumput gajah yang hampir 30 tahun lalu saya lihat, telah berubah menjadi hamparan 'padang pasir'. Pohon-pohon pinus yang dulu tumbuh di tebing jurang, berdiri tegak, tak tahan menahan semburan awan panas dan muntahan material pasir dan batu Merapi (maaf saya tak paham istilah-2 material letusan gunung berapi). Bangunan rumah rata dengan tanah bahkan sebagian tertimbun pasir.&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Lahan parkir mobil pun menempati areal yang rata dengan pasir. Untuk menuju bekas rumah Mbah Maridjan harus berjalan kaki atau naik ojek 1 km ke atas. Dari area parkir menuju dusun Mbah Maridjan berjejer di samping kiri-kanan berdiri gubuk-gubuk (warung), yang berjualan makanan, minuman dan aneka barag suvenir. Ada resto Kinahrejo dengan menu yang memakai nama-nama terkait erupsi. Misalnya 'sop lava', nasi goreng erupsi, dll. Juga tersedia toilet.&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HiB5vhoVGUs/TZDZmke6HFI/AAAAAAAAAGA/d5oGxjGhnnA/s1600/IMG00040-20110327-1027.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-HiB5vhoVGUs/TZDZmke6HFI/AAAAAAAAAGA/d5oGxjGhnnA/s320/IMG00040-20110327-1027.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Melihat ini semua, sekalipun mungkin bisa dikatakan 'ironi', yaitu bagaimana sebuah bencana (musibah, yang mendatangkan duka dan kesedihan) dijadikan obyek wisata (yang berkonotasi 'hepi-hepi' --kata seorang teman), namun inilah sebuah fakta dan sikap yang&amp;nbsp; harus diambil. Karena kehidupan harus ditempuh dan dihadapi, tidak berguna meratapi terus menerus musibah yang terjadi. Maka 'konversi' dari kedukaan akibat bencana menjadi tempat wisata menunjukkan kreatifitas survival warga setempat. Toh para pengunjung pun bisa belajar, mencoba mendalami dan memahami, bahwa semuanya adalah 'atas kehendak Yang Maha Kuasa'. Bahwa apa yang dulu tampak indah, tampak kokoh, akan sirna ketika kekuatan dahsyat atas iradah-Nya menghendaki sirna. Juga belajar pada spirit masyarakat setempat untuk&amp;nbsp; bangkit pasca ditimpa bencana.&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div dir="rtl" style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-6525992109513283191?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/6525992109513283191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/03/bencana-menuai-pariwista-erupsi-merapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6525992109513283191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6525992109513283191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/03/bencana-menuai-pariwista-erupsi-merapi.html' title='Bencana Menuai Pariwisata (-- Erupsi Merapi)'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Sp0R4z30G3U/TZDV9x0e6_I/AAAAAAAAAFw/N9MJTxCkBqw/s72-c/IMG00035-20110327-1020.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-9099939457272093753</id><published>2011-01-07T08:59:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T20:42:24.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan wisata'/><title type='text'>Welkam long Papua Nugini</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdB4gZB45I/AAAAAAAAAE4/JiDvhVE9deE/s1600/IMG_0186.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdB4gZB45I/AAAAAAAAAE4/JiDvhVE9deE/s320/IMG_0186.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Selamat datang di Papua New Guinea (PNG) ditulis dalam bahasa Inggris PNG menjadi Welkam long Papua Nugini. Ya! Ucapan sama dengan penulisan. Selamat tinggal ditulis Gud Bai (bukan Good Bye). Itulah yang tertulis di gerbang perbatasan RI dengan PNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jayapura kurang lebih ditempuh 2 jam perjalanan melewati Abepura, kemudian daerah transmigrasi Koya (? -- penghasil sayur mayur untuk Jayapura dan sekitarnya). Jalan menuju pos perbatasan tergolong mulus dan lebar. Tentu saja banyak melewati semak belukar dan hutan. Lalu lalang kendaraan pun dari Koya ke perbatasan hanya sesekali kita berpapasan dengan kendaraan lain. Namun di hari libur cukup banyak orang tertarik untuk 'menyeberang' melewati pos perbatasan. Tentu saja tidak perlu passport, hanya lapor ke pos penjagaan TNI dan Polri. Karena memang hanya beberapa puluh meter saja dari gerbang perbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdEAe4y1eI/AAAAAAAAAFA/yispS97z90s/s1600/IMG_0183.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdEAe4y1eI/AAAAAAAAAFA/yispS97z90s/s320/IMG_0183.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Di dearah Koya (?) ditemui lapak-lapak tempat petani menjual hasil pertanian. Jagung rebus hampir selalu ada di lapak itu. Dan dengan sapaan "Pinten reginipun, bu"(Berapa harganya Bu), maka saya berharap mendapat jawaban bahasa Jawa juga dan (ngarep.com) harga yang lebih murah. He3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati tapal batas RI PNG  di timur (tepatnya  tenggara kali ya)Jayapura menjadi sensasi tersendiri. Bagaimana daerah-2 perbatasan dibangun tampak dari infra struktur yang ada. Jalan raya tergolong bagus. Demikian pulasarana kesehatan semacam Puskesmas yang ditilik dari bangunan terlihat baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdC1a9-QTI/AAAAAAAAAE8/kEQ-mMvjFRI/s1600/IMG_0216.JPG" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdC1a9-QTI/AAAAAAAAAE8/kEQ-mMvjFRI/s320/IMG_0216.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Dan yang terlihat  dari atas bukit adalah pantai dan perkampungan PNG  paling dekat dengan perbatasan RI yang .... wow! pantainya terlihat sangat indah. Sebagaimana di Papua yang menjadi bagian dari NKRI, pantai di PNG pun sama indahnya. Pantai yang kelandaiannya tidak jauh, namun langsung bersentuhan dengan pegunungan. Hal yang saya temui juga di Pantai Tablanusu, 2 jam ke barat dari Sentani. Keindahan alam Papua tidak terbantahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, di daerah Koya (?) ada tempat pemancingan yang ramai dikunjungi di akhir pekan oleh pengunjung dari Jayapura, Abepura dan Sentani. Selain tujuan memancing, juga sekalgus membeli oleh-2 sayuran yang dijajakan di lapak pinggir jalan. Sayur mayur termasuk 'barang mewah' menurut saya di Indonesia Timur karena jarang ditemui di rumah2 makan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pantai Tablanusu dan danau Sentani, dan juga monumen Mac Arthur akan diceritakan di posting yang terpisah... "Papua... gunung-gunung menjulang, sungai mengalir deras, mengalirkan emas...." bunyi sebuah lagu daerah yang hampir setiap pagi saya dengar selama dua minggu berada di tanah Papua. Ya, Papua memang luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdC1a9-QTI/AAAAAAAAAE8/kEQ-mMvjFRI/s1600/IMG_0216.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-9099939457272093753?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/9099939457272093753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/01/welkam-long-papua-nugini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/9099939457272093753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/9099939457272093753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/01/welkam-long-papua-nugini.html' title='Welkam long Papua Nugini'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSdB4gZB45I/AAAAAAAAAE4/JiDvhVE9deE/s72-c/IMG_0186.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-6717939251317637755</id><published>2011-01-07T07:59:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T20:42:46.108-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan wisata'/><title type='text'>Sulawesi: daratan dengan batuan yang kompleks</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSc2qizvN6I/AAAAAAAAAEw/7QDYIFNS_ws/s1600/IMG_0293.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSc2qizvN6I/AAAAAAAAAEw/7QDYIFNS_ws/s320/IMG_0293.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang Sulawesi. Mengutip satu artikel di web: "Wilayah ini (Sulawesi - pen) dianggap sebagai salah satu wilayah geologi paling kompleks di muka bumi". Dikatakan selanjutnya: Pemahaman yang ada saat ini adalah secara geologis pulau ini terbentuk dari beberapa bagian. Satu bagian membentuk Sulawesi bagian utara dan sebagian bagian barat, satu bagian membentuk bagian timur dan daerah-daerah selatan – tengah. Wilayah yang lebih kecil dari pulau ini, seperti Banggai-Sula di sebelah timur dibentuk dari bagian dari daerah lain. Lempengan-lempengan geologi ini bertabrakan satu sama lain yang diakibatkan oleh pergerakan tektonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam literatur geologi secara luas, diketahui bahwa wilayah sebelah timur daratan Sulawesi berasal dari sebuah pecahan Gondwanaland. Banyak pendapat berbeda atas daerah asal dari wilayah Barat Daratan Sulawesi. Pendapat yang lama yang ada cenderung menganggapnya sebagai bagian yang pernah menjadi bagian dari Laurasia, seiring dengan bagian yang lebih besar dari wilayah Barat Indonesia. Baru-baru ini, banyak penulis geologi seperti Whitten berpendapat bahwa daerah tersebut merupakan patahan zaman Jurassic dari Gondwanaland. (tentang pembahasan Sulawesi dari sisi geologi silakan klik http://lorelindu.wordpress.com).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang begitu kita masuk ke daerah atas Sulawesi Selatan (Toraja, Palopo, dst) akan terlihat batuan-2 khas yang menjulang tinggi dan kokoh. Ini mungkin yang konon hasil benturan lempengan bumi puluhan bahkan ratusan juta tahun yang lalu (ah, anda boleh cari sumber-2nya sendiri. Antara lain secara ringkas ada di museum Geologi Bandung).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-6717939251317637755?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/6717939251317637755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/01/sulawesi-daratan-dengan-batuan-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6717939251317637755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6717939251317637755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2011/01/sulawesi-daratan-dengan-batuan-yang.html' title='Sulawesi: daratan dengan batuan yang kompleks'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSc2qizvN6I/AAAAAAAAAEw/7QDYIFNS_ws/s72-c/IMG_0293.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-6194717706803940087</id><published>2010-12-21T20:52:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T20:43:08.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan wisata'/><title type='text'>Toraja, eksotisme alam dan budaya</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TRF9eSDLqSI/AAAAAAAAAEc/tbrU-Wmcvmo/s1600/IMG_0324.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TRF9eSDLqSI/AAAAAAAAAEc/tbrU-Wmcvmo/s320/IMG_0324.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2010 ini saya berkesempatan berkunjung ke berbagai belahan nusantara. Papua, Sulawesi dan Sumatera di antara  pulau-2 yang saya singgahi dalam rangka tugas. Peribahasa Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui benar-2 saya manfaatkan.  Dalam arti  di sela tugas  menyempatkan mengunjungi daerah wisata yang terkenal di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya bercerita  tentang  Tana Toraja  (TATOR), di Sulawesi Selatan. Sebenarnya saya bertugas di Pinrang  dan Polewali, namun Tator  menjadi daya tarik tersendiri dan harus saya kunjungi, sekalipun perjalanan harus ditempuh sekitar  4  jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mulai bertanya bagaimana saya mencapai Toraja dari Pinrang. Ada yang bilang harus ke Pare-2 dulu agar dapat  angkutan yang nyaman. Namun akhirnya saya berangkat dengan bus Mandiri, satu-satunya bis yang melayani trayek Pinrang - Makale melalui Enrekang. Bis ini berangkat jam 08.00 dan tiba di Makale ibukota  Toraja Induk jam 12.00 dengan rehat sekitar  1/4 jam di daerah Suddu. Dan berangkat kembali (pulang)ke Pinrang jam 13.00. Hanya satu bis ini yang setia melayani trayek ini, sekalipun penumpangnya hanya 2-4 orang setiap harinya. Titipan dokumen atau barang yang rupanya ikut menunjang pendapatan awak bis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toraja dipenuhi pegunungan yang benar-2 indah. bukit-bukit yang tampak dulunya longsor membentuk 'papan-2' cadas yang menjulang. Di bawahnya sungai dan areal pertanian sawah yang mendominasi Toraja. Ada dua kota besar: Makale sebagai ibukota Toraja Induk dan Rantepao sebagai ibukota Toraja Utara yang merupakan kabupaten baru hasil pemekaran. Makale dulunya menjadi pusat pemerinthanan, sementara Rantepao kota perdagangan dan wisata (sewaktu masih satu kabupaten). Kini mau tidak mau Rantepao harus berbenah dengan membangun kantor-2 baru untuk pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makale kecil, hanya begitu masuk 'bundaran' Makale kita sudah langsung 'ngeh': oh ini Toraja toh. Ada bangunan gedung DPRD dengan gaya arsitek khas Toraja. &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TRGC44KjDMI/AAAAAAAAAEk/4RANWyr5Bvs/s1600/IMG_0241.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TRGC44KjDMI/AAAAAAAAAEk/4RANWyr5Bvs/s320/IMG_0241.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Juga gereja yang sangat menonjol dan sebagia kantor pemerintahan di seberang gedung DPRD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Makale untuk sampai ke Rantepao dengan 'taksi' cukup 5 rb perak. Ongkos yang murah karena relatif jauh (20 km-an). Nah di kota inilah banyak hotel dan penginapan untuk para wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keindahan Toraja, khususnya Rantepao? juga budayanya? tunggu posting berikutnya ya....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-6194717706803940087?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/6194717706803940087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2010/12/toraja-eksotisme-alam-dan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6194717706803940087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6194717706803940087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2010/12/toraja-eksotisme-alam-dan-budaya.html' title='Toraja, eksotisme alam dan budaya'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TRF9eSDLqSI/AAAAAAAAAEc/tbrU-Wmcvmo/s72-c/IMG_0324.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-3909179030508252887</id><published>2010-04-15T05:17:00.001-07:00</published><updated>2011-12-02T20:44:07.989-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Kebudayaan'/><title type='text'>Kapan kekerasan menjauh dari negeri ini?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Kekerasan 'Tanjungpriuk berdarah' menambah panjang daftar kekerasan atau bentrokan antar aparat dengan warga. Dimensinya pun luas, menyangkut lemahnya komunikasi dan dialog, arogansi kekuasaan dan di lain pihak 'keyakinan' akan kekeramatan sebuah makam ulama yang dihormati.&lt;br /&gt;Hiruk pikuk persoalan negeri ini pun bertambah riuh. Belum tuntas kasus Century, markus pajak, kekisruhan internal Polri, dll seakan melahirkan masalah yang tiada berhenti mendera bangsa ini. &lt;br /&gt;Belum lagi soal terorisme, yang timbul tenggelam menyita perhatian publik. Dan lagi-lagi satu kasus belum transparan penyelesaiannya, sudah muncul kasus baru.&lt;br /&gt;Rakyat pun menyaksikan berita2 yang terputus, menyisakan tanda tanya besar, dan kecurigaan dan skeptisisme pada pemerintah. Jelas rakyat menunggu ketegasan sikap pemangku jabatan publik, dan tentu menuntut keadilan. &lt;br /&gt;Kembali soal Tanjungpriok berdarah, sebagian memory masyarakat segera tertuju pada masa lalu tatkala di jaman Orba Tanjungpriok juga membara. Dan penyelesaian kasusnya pun dianggap masih 'remang-remang'.&lt;br /&gt;Akankah kali ini juga akan kembali buram? Kita menunggu penyelesaian seadil-adilnya, dengan jalur hukum yang terhormat, bukan hukum yang bisa dipermainkan oleh para markus.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-3909179030508252887?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/3909179030508252887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2010/04/kapan-kekerasan-menjauh-dari-negeri-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/3909179030508252887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/3909179030508252887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2010/04/kapan-kekerasan-menjauh-dari-negeri-ini.html' title='Kapan kekerasan menjauh dari negeri ini?'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-1174952381555764277</id><published>2010-01-02T11:36:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T20:44:39.104-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelajaran moral'/><title type='text'>Kisah tentang ketulusan</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Sz-h0sf2rII/AAAAAAAAADc/gA7t4awTTSA/s1600-h/ketulusan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Sz-h0sf2rII/AAAAAAAAADc/gA7t4awTTSA/s320/ketulusan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sudah beberapa hari ini saya ingin menuliskan kisah ini. Baru malam ini kesampaian. Kisahnya sebetulnya tidak luar biasa, bukan kisah yang fenomenal, namun bagi saya sungguh berarti dan memberi pelajaran berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua persistiwa yang saya harus berterima kasih banyak kepada orang lain. Kisah pertama terjadi ketika saya berada di Bandung, Ahad, 27 Desember 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung siang itu diguyur hujan deras. Dalam perjalanan dari Cihampelas menuju Bandung Super Mall (BSM), 'lampu kota' saya nyalakan untuk memperjelas pengendara lainnya di tengah hujan lebat cenderung berkabut. Sampai di BSM, mobil harus parkir di samping timur gedung BSM agak memojok di utara, karena area parkir yang penuh. Dalam situasi hujan, saya dan keluarga terburu-buru ingin segera menuju gedung (inilah pangkal persoalannya, yang nanti akan diceritakan di bawah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tujuan membeli sesuatu di situ sebenarnya. Hanya ingin menuruti anak saya yang nomor dua, yang katanya sekedar ingin tahu 'BSM kayak apa sih... masa sudah ke Bandung gak mampir ke BSM'. Setelah putar-putar mall hampir 3 jam, sekitar jam 18.30 ingin segera pulang. Eh, di pintu keluar depan, ada 'etalase' poster film-film yang diputar di bioskop lantai 3 BSM. Ada 'Sang Pemimpi', 'Avatar', dan film lain yang saya lupa (mungkin karena belum/tidak sangat populer seperti dua judul itu). "Eh, itu sang pemimpi main, kalau nunggu sampai Purwokerto masih lama... nonton yuk...", ajak saya bijaksana. "Ya..ya... bah, nonton kita, mamas kan sudah nonton di Jogja", Salsa anakku yang paling kecil, kelas 3 SD, menyahut cepat, tidak mau kalah dengan kakaknya yang sudah lebih dulu nonton. (Kali ini kakak laki-lakinya, anak saya pertama, memang tidak ikut berlibur ke Bandung). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik lagi ke lantai 3, beli ticket dan menunggu di lobby bioskop tidak terlalu lama. Singkat cerita Sang Pemimpi usai, segera ingin cepat pulang. Di luar rupanya masih hujan deras, sementara mobil-mobil di area parkir sudah berkurang banyak. Saya minta keluarga menunggu di teras depan BSM, biar saya yang menuju mobil sendirian. Kebetulan ada 'ojek payung'. Saya ingin segera pulang ke hotel, karena teringat Bapak saya yang tinggal sendiri di hotel. (Bapak memang tidak mau ikut kalau jalan-jalan di kota, dia akan ikut kalau wisata alam, seperti kemarinnya hari Sabtu ke Tangkuban Perahu.... ). Janji saya sekitar ba'da maghrib sudah sampai hotel. Pasti Bapak sedang mengkhawatirkan kami, kenapa sudah jam 21.30 belum sampai? Dia pasti sedang berdoa untuk kami, mudah-mudahan tidak terjadi 'sesuatu yang tidak diinginkan' di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berjalan dengan setengah berlari. 'Payung golf' yang saya bawa tidak cukup melindungi saya dari cipratan air hujan yang deras. Padahal saya gampang pilek kalau kecipratan air hujan. Semakin dekat ke mobil, saya melihat temaram 'lampu kota' mobilku menyala. Mulai lemas rasanya, 'waduh, lampu sign nyala, apa aki tidak tekor'. Hmmm... mudah-mudahan tidak! Tapi, sudah lebih lima jam lho....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan... 'ckkkk... ckkkkk.... krkrkkrkr' , tiga kali di-starter tidak bunyi. Ini yang saya maksud 'pangkal persoalan' di atas. Ketergesaan dan terburu-buru membawa celaka. Kok ya lupa matiin lampu sign. Saya menuju post jaga satpam di timur gedung. Saya sampaikan masalahnya. Solusi pak satpam: biasanya pinjam aki taksi mas, dipancing. (waduh, hujan begini taksi pasti sibuk antar penumpang, pikirku). Mau minta tolong didorong, dia hanya sendiri. Masih hujan lagi! Isteri dan anak-anak pasti menunggu dan khawatir: abah kok lama. Saya putuskan untuk mengembalikan payung dulu, dan membawa payung dari dalam mobil untuk kembali ke parkiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kebingungan saya coba telepon adik ipar, untuk memberi bantuan. (ah, tapi jauh ya... kesininya ntar macet lagi! saya cancel sendiri). Isteri dan anak-anak sudah menawarkan diri untuk mendorong. "Jangan ah, hujan deras begini, ntar saja menunggu agak reda, tapi kita mendekat ke mobil yuk...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak dari pintu keluar mall ke mobil mungkin sekitar 75-an meter. Kami kembali berjalan menuju mobil. Pak Satpam yang tadi jaga dan kelewatan pos-nya sudah tidak di tempat. Ah... ada titik terang solusi.&amp;nbsp; 'Bu, Bu... itu ada orang-orang sedang memperbaiki bangunan... kita minta tolong mereka'. Tadi saya lihat tidak ada orang-orang ini. Rupanya mereke nglembur, dan bekerja setelah mall tutup. Saya tidak tahu persis bagian ruang apa yang sedang diperbaiki. "Mas, malam mas.... mmm... dst" saya uraikan masalah saya dan --intinya-- minta tolong mendorong mobil. Mereka mau. Hujan mulai agak reda, tinggal seperti gerimis. Saya memberi kode isteri, menyiapkan 'uang rokok' untuk mereka. "Masuk gigi dua ya mas.." kata salah satu dari mereka. Dan... satu, dua, tiga.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua kali dorongan, mesin mobil bisa hidup! Alhamdulillah.... plong rasanya! Saya pernah mengalami sebelumnya mobil mogok, tapi tidak sepanik saat ini, karena terjadi siang hari dan karenanya banyak orang bisa dimintai tolong (misalnya abang becak, tukang parkir, dll). Ini malam-malam, hujan deras, dan di daerah yang baru saya injakkan kaki di situ. Anak-anak dan isteri segera saya suruh naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Bu sudah dikasih uang rokoknya?', tanya saya ke isteri. "Nggak mau bah, mereka bilang gak usah bu...gak usah....". Lho? Subhanalloh... hari gini ada orang yang masih ikhlas, tulus menolong.... gak mau dikasih imbalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rupanya masih terlalu terobsesi dengan pomeo 'No free lunch' alias tidak ada makan siang yang gratis, alias harus ada kompensasi untuk sesuatu yang kita peroleh. Saya pun telah lebih dulu 'berburuk sangka' kepada mereka, bahwa mereka pastilah 'mengharap' sesuatu setelah menolong mendorong mobil saya, sehingga saya pun prepare meminta isteri menyiapkan 'uang rokok'. Ternyata saya telah keliru menilai... terima kasih para pekerja yang malam itu menolong saya, semoga mendapatkan rizki dan berkah yang berlipat-lipat, dan diberi kemudahan dalam segala urusan.... Saya hanya bisa berdoa untuk&amp;nbsp; mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad dini hari, 03/01/10&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-1174952381555764277?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/1174952381555764277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2010/01/kisah-tentang-ketululusan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/1174952381555764277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/1174952381555764277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2010/01/kisah-tentang-ketululusan.html' title='Kisah tentang ketulusan'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Sz-h0sf2rII/AAAAAAAAADc/gA7t4awTTSA/s72-c/ketulusan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-2117055346022958486</id><published>2009-11-12T15:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T20:45:02.110-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Kebudayaan'/><title type='text'>Wibawa Polisi dan Polisi 'Wibawa'</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SvybbYa1NNI/AAAAAAAAADU/YKB5OffmTfE/s1600-h/patung+polisi+wibawa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SvybbYa1NNI/AAAAAAAAADU/YKB5OffmTfE/s320/patung+polisi+wibawa.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Banyak polisi&amp;nbsp; dan orang 'busuk' tapi banyak juga polisi dan orang 'baik'. Demikian Buya Syafi'ie Ma'arif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah) memberikan sebersit optimisme kita, bahwa masih ada (dan banyak) orang baik (termasuk polisi) dalam bangsa ini, di tengah pemberitaan yang taka henti kasus KPK vs Polri/Kejaksaan (cicak vs buaya), yang seakan meruntuhkan wibawa penegak keadilan. Dibalik kasus yang memang menyayat rasa keadilan itu, kita tetap harus menyimpan bara optimisme bahwa bangsa ini masih memiliki orang-orang baik yang care dan ber-itikad sungguh-sungguh memajukan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pak Polisi misalnya. Sangatlah tidak bijak kalau dikatakan semua polisi busuk. Karena banyak dari mereka yang menjalankan tugas dengan benar. Hanya yang tampak ke permukaan, yang mungkin kita juga mengalaminya, ketika berurusan dengan polisi ujung-ujungnya adalah soal 'duit' (UUD). Kasus yang sampai ke polisi, untuk tidak dibawa ke kejaksaan mesti 'diatur-atur'. Belum kucing-kucingan beking bisnis ilegal (miras, judi, kayu, narkoba, dll) yang --agar aman dari garukan-- mesti kasih upeti. Ini pemahaman publik, yang tentunya berat mengembalikan citra negatif ini. Dengan terkuaknya rekaman di MK yang menunjukkan secara 'telanjang' intervensi seorang Anggodo kepada para oknum penyidik dan bahkan seorang Kabareskim, makin menguatkan sangkaan orang bahwa polisi memang 'busuk'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu benci polisi busuk. Dan mendambakan polisi baik dan jujur. Tapi siapkah kita sendiri menghadapoi mereka yang baik, tegas, dan jujur? Kadang kita mau 'menang' sendiri kok, misalnya ketika ada operasi lalu lintas, ketika kita lupa tidak membawa SIM/STNK, kita kadang --karena malas sidang dengan alasan sibuk, jauh, repot lah-- minta 'diselesaikan sekarang saja'. Nah, ujung-ujungnya kita sendiri 'menawarkan' sesuatu yang harus mereka hindari. Dan, klop lah.... karena oknum itu 'ngarep' juga. Ini realitas yang masih kadang ditemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pengalaman, penglihatan, berita tentang polisi menjadikan persepsi tentng wibawa polisi yang semakin hilang. Yang ada polisi 'Wibawa' -- itu loh patung polisi tegap yang ada di perempatan-2 jalan. Nah patung polisi Wibawa pun kini mulai langka --konon di Jogja cuma tinggal satu, di depan toko Gramedia. Nah lho! Jadi baik wibawa polisi maupun polisi wibawa sudah nggak ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak se-pesimis itu tentunya. Postingan blog ini pernah memuat kisah polisi yang dengan ikhlas membuang tumpahan oli di jalan raya, di tengah terik matahari, demi keselamatan pengguna jalan. (coba telusuri blog ini). Juga setiap pagi, bagi yang rutin antar anak ke sekolah, pasti merasakan lancarnya jalan karena ada pak Polisi yang mengatur lalu lintas.... Kita dukung polisi memiliki WIBAWA, bukan sekedar patung polisi 'WIBAWA'.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-2117055346022958486?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/2117055346022958486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/11/wibawa-polisi-dan-polisi-wibawa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/2117055346022958486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/2117055346022958486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/11/wibawa-polisi-dan-polisi-wibawa.html' title='Wibawa Polisi dan Polisi &apos;Wibawa&apos;'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SvybbYa1NNI/AAAAAAAAADU/YKB5OffmTfE/s72-c/patung+polisi+wibawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-6946398304043236390</id><published>2009-10-22T08:59:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T08:59:05.012-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Kebudayaan'/><title type='text'>Bangsa pelupa lagi pemaaf....</title><content type='html'>Kita ditakdirkan menjadi bangsa pelupa dan pemaaf.... (?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SuCBE0PuMyI/AAAAAAAAACk/HPNVtRnWVmU/s1600-h/patung+kuningan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SuCBE0PuMyI/AAAAAAAAACk/HPNVtRnWVmU/s200/patung+kuningan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Baru saja dilantik Presiden RI hasil pemilu 2009: Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) dan Boediono. Yang memimpin sidang pelantikan tanggal 20 Oktober 2009 itu adalah Ketua MPR Taufik Kiemas (TK). Ada kekeliruan (tepatnya mungkin kekonyoloan), yang diakui sebagai manusiawi, yang dibuat oleh sang ketua MPR. Salah menyebut nama, lupa tidak menyebut tamu kehormatan, salah ucap (doktor dibaca dokter, mister dibaca mester, dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media cetak dan TV pun memuat berita 'keseleo lidah' ini. Namun ada satu media cetak terbesar yang tidak menyinggung hal ini. Mungkin sengaja agar cepat lupa, dan rakyat lebih fokus kepada program presiden dan wakilnya. Ada yang bilang 'memprihatinkan'. Ada yang komentar 'pantas, lah wong gak pernah ikut rapat, 'kan suka mbolos...' (komentar ini menggarisbawahi kesukaan TK mbolos saat menjadi anggota DPR periode sebelumnya). Untuk angka yang tinggi atas ketidakhadiran beliau, kita mungkin bisa maklum, karena sebagai politisi sekaligus suami dari Megawati sering mendampingi dalam kunjungan2 ke daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk salah baca teks pidato yang sudah disiapkan, dan sudah pula dilakukan gladi kotor - gladi resik, kok sampai terjadi keseleo? Bukankah ini forum puncak dari serangkaian kegiatan politik bernama Pemilu yang panjang? Ini sepele, tapi kok ya cukup membuat 'cacat' (kecil sih) atas seremoni yang seharusnya khidmat dan sakral tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagaimana judul tulisan, kita ini adalah bangsa pelupa lagi pemaaf... Permakluman atas kejadian tsb segera muncul, dan sebentar juga lupa atas kejadian yang sebetulnya 'tidak pantas' itu. Ada banyak hal yang jauh lebih penting daripada sekedar keseleo lidah itu... Antara lain: kepedulian dan keprihatinan elite atas kondisi bangsa yang --mengutip Syafi'i Ma'arif-- belum menemukan jalan yang benar untuk mencapai tujuannya. Sampai-sampai Buya Ma'arif menulis opini 'Kabinet minus Mimik Prihatin' demi melihat tawa ceria calon menteri yang dipanggil SBY di Cikeas, yang seakan lupa kalau kondisi berbagai bidang negeri ini masih jauh dari harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa... lupa, lupa, lupa, lupa..... (#kuburan#)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-6946398304043236390?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/6946398304043236390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/10/bangsa-pelupa-lagi-pemaaf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6946398304043236390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/6946398304043236390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/10/bangsa-pelupa-lagi-pemaaf.html' title='Bangsa pelupa lagi pemaaf....'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SuCBE0PuMyI/AAAAAAAAACk/HPNVtRnWVmU/s72-c/patung+kuningan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-124213424392690028</id><published>2009-10-03T21:43:00.000-07:00</published><updated>2011-12-02T20:45:27.070-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni budaya'/><title type='text'>Batik, songket, ulos...</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Ssgn39gE7II/AAAAAAAAACI/ycIYgqxCAMU/s1600-h/front+liner+sebuah+bank.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Ssgn39gE7II/AAAAAAAAACI/ycIYgqxCAMU/s320/front+liner+sebuah+bank.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang teman tidak hanya menabahkan batik untuk karya bangsa yang diakui sebagai warisan dunia berasal dari Indonesia. Tapi juga ulos, songket... (bahkan secara guyon koteka). Ya, tentu karena sangat banyak ragam pakaian bernuansa motif nusantara genuine... tidka hanya batik.&lt;br /&gt;Di tiap daerah ada khas motif pakaian dan mungkin bahan yang digunakan. Ini tentu sebuah sejarah yang panjang. Namun membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa kreatif.&lt;br /&gt;Apa selain batik, ulos, songket, yang bisa dibanggakan dan diajukan sebagai warisan asli negeri kita?&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Ssgm1ZI7PPI/AAAAAAAAABw/YShcJyKCS3Y/s1600-h/berpose+di+depan+rumah+makah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Ssgm1ZI7PPI/AAAAAAAAABw/YShcJyKCS3Y/s320/berpose+di+depan+rumah+makah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;berpose dengan batik...&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SsgnFXNeECI/AAAAAAAAAB4/fpe8HWLShhg/s1600-h/berpose+sebelum+aktifitas.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SsgnFXNeECI/AAAAAAAAAB4/fpe8HWLShhg/s320/berpose+sebelum+aktifitas.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;ayu 2 dan ganteng...&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SsgnScnSv_I/AAAAAAAAACA/sQw6LVs3W14/s1600-h/ayo+bergaya....jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SsgnScnSv_I/AAAAAAAAACA/sQw6LVs3W14/s320/ayo+bergaya....jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;senyum..... &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-124213424392690028?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://banyumasnews.com' title='Batik, songket, ulos...'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/124213424392690028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/10/batik-songket-ulos.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/124213424392690028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/124213424392690028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/10/batik-songket-ulos.html' title='Batik, songket, ulos...'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/Ssgn39gE7II/AAAAAAAAACI/ycIYgqxCAMU/s72-c/front+liner+sebuah+bank.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-365057968312763000</id><published>2009-07-11T20:10:00.000-07:00</published><updated>2011-12-02T20:45:47.067-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan wisata'/><title type='text'>Jembatan Bertingkat KA Peninggalan Belanda</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllaDVZS3YI/AAAAAAAAABo/oM90KOZ7cvw/s1600-h/260420091602.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357412245063261570" src="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllaDVZS3YI/AAAAAAAAABo/oM90KOZ7cvw/s200/260420091602.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllZvA3Q7jI/AAAAAAAAABg/KxAL13eRJxA/s1600-h/260420091601.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357411895954435634" src="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllZvA3Q7jI/AAAAAAAAABg/KxAL13eRJxA/s200/260420091601.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllY05uvImI/AAAAAAAAABY/5n48lHKe0i4/s1600-h/Salsabila+di+atas+powotan.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357410897607205474" src="http://2.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllY05uvImI/AAAAAAAAABY/5n48lHKe0i4/s200/Salsabila+di+atas+powotan.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllWxTk8CiI/AAAAAAAAABQ/wlRkZYwpb8U/s1600-h/260420091582.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357408636802697762" src="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllWxTk8CiI/AAAAAAAAABQ/wlRkZYwpb8U/s200/260420091582.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllWcAOjR6I/AAAAAAAAABI/FWfsPEmWeoo/s1600-h/260420091585.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357408270831273890" src="http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllWcAOjR6I/AAAAAAAAABI/FWfsPEmWeoo/s200/260420091585.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllWA91qA0I/AAAAAAAAABA/0vJQC6KsIqU/s1600-h/260420091593.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357407806333518658" src="http://1.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllWA91qA0I/AAAAAAAAABA/0vJQC6KsIqU/s200/260420091593.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllVSMd4voI/AAAAAAAAAA4/QX7eCGJ7lMk/s1600-h/260420091594.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357407002806500994" src="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllVSMd4voI/AAAAAAAAAA4/QX7eCGJ7lMk/s200/260420091594.jpg" style="cursor: pointer; float: right; height: 150px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Brug  Kali Belang, demikian masyarakat sekitar menamainya. Terletak di km 3 dari stasiun KA Bumiayu arah Cirebon, tepatnya di Desa Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia, jembatan kereta ini memiliki keunikan tersendiri. Berdiri kokoh dengan penyangga tiang beton berwujud seperti tangga, berjumlah 22 tiang. Keunikan lain adalah adanya jembatan 'kedua' di anak tangga paling atas, terbuat dari papan-2 kayu yang ditata di atas penyanga besi (rel KA) yang melintang antar tiang jembatan, plus pegangan tangannya. 'Powotan' ini dipakai untuk lewat manusia, sehingga jadilah jembatan Kalibelang sebagai 'jembatan bertingkat' . Pastilah 'second bridge' ini dibangun agar penduduk sekitar yang akan pergi ke ladang atau pergi ke antar pedukuhan (yang terdekat dukuh Karangasem dan Kalipucung) tidak melewati rel KA, yang tentu saja sangat beresiko. Tidak ada informasi apakah 'powotan' untuk orang ini dibangun bersamaan atau setelah ada kecelakaan. Yang jelas sangat membantu warga setempat. Bahkan motor pun bisa lewat di jembatan kedua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali Belang-nya sendiri tidak lah merupakan sungai besar. Namun cekungan yang menghubungkan antar bukit cukup panjang, sekitar 150 mtr. (lihat gambar kali)&lt;br /&gt;Dari sejumlah 22 tiang, ada dua tiang yang saing berdempetan (tiang no.11 dan 12). Kedua 'saka' ini dijuluki 'saka penganten' oleh warga dan ada yang mempercayainya sebagai saka yang angker... hiiii. Jadi bangunan cor beton yang menyangga rel KA tidaklah nyambung jadi satu, tapi terpisah oleh ruang sekitar 20 cm, dari atas sampai bawah. Yang nyambung tentu rel-nya. Ini tentu sudah diperhitungkan para insinyur negeri Kincir Angin waktu itu, agar jembatan tahan terhadap goncangan roda besi dan terpaan angin atau gempa. Sungguh pemikiran yang jenius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi peminat bangunan sipil, konstruksi jembatan ini tentu menarik. Sudah berusia hampir se-abad namun masih kokoh berdiri. Hanya saja kayu-kayu 'powotan' dan pegangan tangan sudah tampak keropos, mungkin karena sering terkena air selain usianya yang memang sudah renta. Namun konstruksi beton masih kokoh. Tentu hal ini karena pilihan bahan yang benar dan waktu itu barangkali 'tidak ada korupsi dan mark up'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img alt="mrgreen" class="emoticon" height="15" src="http://wolverinex02.googlepages.com/icon_mrgreen.gif" title="mrgreen" width="15" /&gt;&lt;img alt="smile" class="emoticon" height="15" src="http://wolverinex02.googlepages.com/icon_smile.gif" title="smile" width="15" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-365057968312763000?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/365057968312763000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/07/jembatan-ka-peninggalan-belanda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/365057968312763000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/365057968312763000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/07/jembatan-ka-peninggalan-belanda.html' title='Jembatan Bertingkat KA Peninggalan Belanda'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SllaDVZS3YI/AAAAAAAAABo/oM90KOZ7cvw/s72-c/260420091602.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-289803154733970807</id><published>2009-06-03T12:10:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T23:31:26.276-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik Kebudayaan'/><title type='text'>Kilas Balik Jilbab (setelah Jilbab Loro jadi swing word)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SshBIbvM0BI/AAAAAAAAACQ/VErAa3QBThQ/s1600-h/jilbab.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SshBIbvM0BI/AAAAAAAAACQ/VErAa3QBThQ/s320/jilbab.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jilbab Loro&lt;/span&gt; kini menjadi salah satu swing word (kata rayuan, buaian) tim kampanye JK-Win, mengadopsi 'kesuksesan' kupluk loro di pilpres 2004. Terkait jilbab (busana muslimah penutup aurat wanita) sebenarnya memiliki sejarah tersendiri dalam ranah politik Indonesia, karena secara simbolik pernah dipersepsi sebagai ekpresi kebangkitan Islam. Dan sejarah memang memiliki 'daur'-nya sendiri, ada saatnya sesuatu dihujat dan dicurigai, ada kalanya dimaknai dan 'dimanfaatkan'. Ibarat roda pedati, berputar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari sah tidaknya pemakaian swing word Jilbab Loro (lagi pula siapa yang menentukan sah tidaknya?) atau etis ataukah tidak dalam fatsun politik pemakaian kata-2 itu, saya jadi teringat pada proses 'kelahiran' jilbab dalam ranah kehidupan formal modern (maksudnya: sekolah dan kampus negeri, kantor-2, dan institusi remsi lainnya). Kita tahu, dulu (sebelum 80-an) jilbab hanya dipakai di forum pengajian ibu-2, di kampung-2, di sekolah dan lembaga pendidikan yang memang berciri agama (madrasah, pesantren) --kalau di sekolah negeri adalah di sekolah yang bernaung di bawah DEPAG (MIN, MTSN, MAN, IAIN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 80-an adalah dimulainya satu dua aktifis mencoba berani memakai jilbab di sekolah dan kampus umum.  Di SMA aktifis PII, di kampus aktifis HMI atau lembaga dakwah kampus. Karuan saja, saat itu timbul perdebatan bahkan larangan dalam bentuk SK dan instruksi pelarangan pemakaian jilbab di sekolah negeri. Berkembangnya kelompok-2 pengajian (usroh) dan antusiasme kebangkitan Islam abad ke 15 menjadikan issue ini melesat bak busur panah, menohok mereka yang phobi terhadap sesuatu berbau Islam. Sebagian elite di pemerintahan melihat hal ini sebagai ekpresi ekstrem, sementara pembela jilbab berdalih bahwa ini adalah hak pengamalan agama yang dijamin UUD. Saat itu pemakai jilbab boleh dibilang dicibir dan siap menuai pemanggilan dari guru BK bagi yang masih di SMA, atau atasan bagi yang sudah bekerja di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emha Ainun Nadjib sampai membuat pementasan teater "Lautan Jilbab" merespon dan membela merebaknya pemakai jilbab di kampus-2 umum atas kecurigaan dan penentangan yang terjadi saat itu. Pertunjukkan yang dimainkan oleh Teater Shalahuddin UGM itu dipentaskan keliling kota-2 besar di Indonesia. Jilbab memang fenomenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomenal, karena dirunut ke belakang 20-an tahun lalu, ia dibenci dan dicurigai oleh para Islamo-phobia. Ketakutan yang berlebihan akan bangkitnya esktrem kanan, apalagi tema-tema Islamisasi Ekonomi, Islamisasi Pendidikan, Islamisasi Kebudayaan, dan Islamisasi-2 yang lain saat itu menjadi wacana yang menyeruak di antara aktifis Islam. Saat ini dengan sudah berkembangnya perbankan syariah, tema Islamisasi Ekonomi mengendur, karena bentuknya yang sudah mulai meng-empiris, ada dalam praktik. Orang pun sudah melihat sebagai hal yang biasa. Hampir tidak ada lagi trauma. Demikian pula dengan jilbab, sudah sangat biasa dan diterima sebagai 'kewajaran'. Di sekolah, kantor, di mall jilbab diterima sebagai hal yang lumrah. Bahkan di beberapa sekolah negeri di bawah kementiran Diknas, jilbab 'diwajibkan' sebagai pakaian resmi karena sekolah diperbolehkan memiliki ciri khas sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang mungkin dicita-citakan Kuntowidjojo sebagai Islam yang bukan lagi tataran ideologi atau ilmu, tapi sudah dalam tataran empiris, sebagai sebuah sistem (atau sub sistem) yang berlaku dan berjalan di masyarakat. Ketika sebuah value di-ejawantah-kan dalam laku, yang diniatkan murni sebagai ekspresi keyakinan tanpa maksud meng-ekspresikan tujuan lain yang tersembunyi (hidden agenda), maka akan diterima sebagai kewajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kini jilbab menjadi bahan buaian kampanye presiden, sungguh suatu yang luar biasa --dilihat dari 'perjalanan' jilbab sejak tahun 80-an. Dulu dibenci dan dicurigai, kini dipuji dan dimakai politis. Dulu diperjuangkan dengan ada yang harus berkorban (misalnya dikeluarkan dari pekerjaan, kenaikan pangkat terhambat, dll), kini menjadi 'alat perjuangan'. Kita perlu berterima kasih kepada para aktifis yang sudah berani memulai, berterima kasih pula kepada para pembelanya. Mereka mungkin tidak berfikir bahwa jilbab akan seperti sekarang, menjadi 'ikon' kampanye politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat kasidah melayu Nasida Ria Semarang yang tenar di tahuhn 80-an:  "jilbab jilbab putih... lambang kesucian...". Juga lagu Bimbo: "Aisah adinda kita... dst"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilbab putih lambang kesucian, kalau sudah jadi 'jilbab loro'...? Anda yang boleh berpendapat. Saya hanya berharap semua bermuara pada hal positif untuk siapa pun. Be positive!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-289803154733970807?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/289803154733970807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/06/kilas-balik-jilbab-setelah-jilbab-loro.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/289803154733970807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/289803154733970807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/06/kilas-balik-jilbab-setelah-jilbab-loro.html' title='Kilas Balik Jilbab (setelah Jilbab Loro jadi swing word)'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/SshBIbvM0BI/AAAAAAAAACQ/VErAa3QBThQ/s72-c/jilbab.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-3242395963772498052</id><published>2009-03-18T09:33:00.001-07:00</published><updated>2011-12-02T20:46:08.009-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelajaran moral'/><title type='text'>Kisah Polisi dan Tumpahan Olie</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Tadi siang di kantor, menjelang makan siang, ngobrol dengan 3 teman. Topik 'makan siang dimana' entah mengapa tiba-tiba sampai pada topik 'kejujuran adalah sikap yang mencerminkan kesamaan antara perkataan dan perbuatan'. Salah satu teman bilang, sekarang ini menemukan orang seperti itu (yang jujur) mungkin 1 di antara 1000. Rupanya teman satu ini pesimis dengan perilaku manusia sekarang. Dan salah satu yang 'ditengarai' bersikap tidak jujur adalah perilaku sebagian penegak hukum di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah di antara yang 1 di antara 1000 ini, teman tadi bercerita pada suatu hari dia melihat seorang polisi sedang 'mengeringkan' olie yang tumpah di jalan raya dengan pasir. Kejadian ini ber'TKP' di Purbalingga (timur Purwokerto +/- 20 km). Dikisahkannya, ada satu kendaraan yang membawa drum olie yang kurang cermat dalam pengemasan sehingga sebagian olie tumpah ke jalan raya. Tentu saja membahayakan pengguna jalan lain karena jalan menjadi licin, dan bisa membuat pengendara terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya setelah kejadian itu, ada seorang polisi yang lewat. Dan demi melihat 'bahaya yang mengancam' maka dia berhenti. Lalu dicarinya tumpukan pasir, mengais di antara rumputan pinggir jalan barangkali ada tersisa pasir perbaikan jalan. Dengan tangannya dia mengoreh-oreh (bahasa apa ini? he..he..) dan ditebarkannya pasir ke olie yang membasahi jalan raya. SUngguh mulia Pak Polisi ini, karena berani kotor untuk menyelamatkan pengguna jalan yang akan lewat ke situ... Dia telah jujur: kalau saya yang lewat pun, saya bisa celaka. Demikian juga dengan orang lain. Maka dia jujur pada nuraninya: selalu ingin selamat. Bagaimana agar selamat? Dia berbuat: mengurug olie dengan pasir. Kata hatinya dan perbuatannya sama!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-3242395963772498052?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/3242395963772498052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/03/kisah-polisi-dan-tumpahan-olie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/3242395963772498052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/3242395963772498052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/03/kisah-polisi-dan-tumpahan-olie.html' title='Kisah Polisi dan Tumpahan Olie'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-7645190357865735215</id><published>2009-03-18T09:03:00.000-07:00</published><updated>2011-12-02T20:46:41.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='social media'/><title type='text'>Fenomena Facebook... hanya trend?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Banyak ulasan mengenai situs jejaring sosial Facebook di koran dan majalah, menyoroti perkembangan pengguna yang kian meningkat dari hari ke hari. Di kantor pun heboh, saling bertanya: sudah punya FB belum? Bikin dong, dst dst....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perkembangan facebook jauh lebih dahsyat ketimbang blog. Ketika saya sharing ke teman: saya pengin punya blog untuk menuangkan gagasan dalam tulisan, dia menjawab: blog sudah ketinggalan... buka facebook aja. Dan akhirnya punya account di FB. Berkat FB ini pula, teman-2 kuliah yang sudah 20-an tahun 'kehilangan kontak' beberapa tersambung lagi. Kontak yang ada masih lebih bersifat 'kangen-kangenan'... tapi diambil positifnya saja bahwa FB membantu kembalinya tali silaturrahmi, baik dengan teman maupun komunitas/kelompok dimana seeorang merasa menjadi bagian dan 'nyaman' ber-asosiasi dengan 'group' itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hasrat punya blog tetap membara, dan sekalipun di FB ada segment "catatan" untuk menulis gagasan-2, rasanya tetap belum marem (puas). Maka blog pun tetap 'dilahirkan'. Ya ini, blog yang sedang Anda kunjungi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke facebook. Kalau kita amati postingan-2 atau comment, status, dan tampilan yang ada... memang kebanyakan hanya memanfaatkan FB untuk memberitahu teman atau pengguna lain tentang 'perasaan saat ini, sedang ngapain, lagi di mana, dll' . Mungkin ini 'bawaan' sifat manusiawi, dimana pada saat budaya lisan dan komunitas masih kental dan orang cenderung suka berkumpul.. maka ungkapan perasaan disampaikan verbal dengan lisan. "saya ngantuk nih..", "makan di warung anu enak ya..." disampaikan pada orang yang saat itu ada di dekatnya secara fisik. Kini dengan FB, orang bisa mengungkapkan perasaannya ke banyak orang, tak peduli apakah dibaca atau di-cuekin... Tapi yang penting adalah 'perasaan sudah diungkapkan'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada yang menggunakan FB untuk kepentingan yang lebih serius. Misalnya dengan pembuatan FB tokoh-tokoh politik, agamawan, dan tokoh berbagai bidang yang berpengaruh di bidangnya sehingga FB menjadi katalog pemikiran dan sejarah. Tanpa harus pergi ke perpustaakan cari buku, bisa klik untuk melihat pemikiran-2 para tokoh yang sudah di-facebook-kan. Tentu saja untuk referensi, buku tetaplah menjadi acuan utama. Apalagi di ranah akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, apakah fenomena Facebook hanya trend sesaat? Dalam arti lebih sebagai 'mode' atau 'cara' orang mengungkapkan diri? Nanti manakala muncul situs yang lebih canggih, orang akan beralih ke yang lebih baru dan canggih itu (ingat friendster! saat ini konon mulai ditinggalkan).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-7645190357865735215?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/7645190357865735215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/03/fenomena-facebook-hanya-trend.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/7645190357865735215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/7645190357865735215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/03/fenomena-facebook-hanya-trend.html' title='Fenomena Facebook... hanya trend?'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-8236974237292014040</id><published>2009-03-16T09:06:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T08:58:47.036-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan untuk Anak Kita'/><title type='text'>Anak Anda Malas Membaca?</title><content type='html'>Membaca adalah gerbang ilmu, jalannya 'suka' dan jembatannya adalah buku. Maka pernah ada penerbit bernama 'Djambatan'. Penerbit buku-buku 'berat'. Tentu tidak saja buku, media lain seperti koran, jurnal, tabloid, majalah tentu juga merupakan sumber pengetahuan (kalau tidak bisa dikatakan sbagai 'ilmu' dalam pengertian yang lebih akademis). Selain media tulis-menulis ini, warta berita radio juga sumber pengetahuan berharga, paling tidak di era 'jaman dulu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang radio, saya jadi teringat ketika masih SD (kelas 5-6), karena bapak senang mendengarkan siaran radio BBC London dari radio merk Phillips dengan energi batu baterai, jadi kecanduan ikut mendengarkan berita BBC. Karena seringnya mendengar nama kepala negara disebut dalam berita, terutama negara-2 konflik, saya jadi hafal nama-nama pemimpin dunia (tanpa membaca bku Himpunan Pengetahuan Umum/HPU). So, di kelas kalau Pak Soemarso (alm guru SD saya) memberi pertanyaan dengan bonus 'siapa yang bisa menjawab pertanyaan boleh pulang duluan', kalau pertanyaan menyangkut "siapa nama baru Presiden Amerika Serikat?" atau "siapa nama Perdana Menteri Inggeris saat ini?" dapat dipastikan saya yang bisa menjawab dan boleh pulang duluan... Duh, senangnya. Ya tentu saja, karena saya paling dulu tahu dari berita BBC setelah pilpres di AS dan pemilihan PM di Inggeris. Rupanya Pak Marso (begitu beliau dipanggil) suka juga mendengarkan BBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih sekolah di SD pula, tanpa disengaja, saya menemukan buku usang 'Sejarah Indonesia' karya Anwar Sanusi, tiga perempat bagian 'Di Bawah Bendera Revolusi" (yang sepertiga hilang entah kenapa, mungkin disobek untuk bungkus gorengan oleh yang tidak tahu bahwa itu adalah buku penting dan fenomenal!). Yang paling saya ingat dari buku itu adalah idiom "Islam Sontoloyo". Juga buku bersampul biru ukuran mini dari Partai Masyumi (judulnya lupa, tapi isinya manifesto penolakan terhadap PKI). Dan tentu saja buku "Primbon Butaljemur Adammakna" (ini punya kakek saya, alm Saleh --semoga diterima di sisi-Nya. Amien) . Adanya iklan TV 'ketik Reg spasi Primbon krim ke nomor .... meningatkan saya pada buku kumal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak di SMA saya mulai tahu kenapa Di Bawah Bendera Revolusi saat itu dilarang, kemudian waktu mahasiswa sedikit ada informasi siapa Anwar Sanusi. Mengenai Masyumi mulai gamblang ketika ikut pengajian PII (Pelajar Islam Indonesia) di SMA, karena selalu menokohkan pentolan-2 Masyumi sebagai figur politik. Persentuhan dengan buku kumal, berita radio, dan inspirasi seorang kawan yang lebih tua yang 'kutu buku' (saya sering pinjam buku-2 dan majalah al-Muslimun Bangil --tks Pak Tholib Hasibuan!) menjadikan minat besar pada soal sosial- politik. Kebetulan P4 sedang getol disosialisasikan dan asas tunggal sedang 'dimunculkan' oleh rezim saat itu. Nama Deliar Noer dengan buku (yang berasal dari pidatonya) yang menentang asas tunggal mencuat ke permukaan. Saat masih SMA itu pula kalau jalan-jalan malam dan di trotoar ada pedagang buku dan majalah loak, saya beli (sekalipun uang saku mesti minta lagi ke ortu -- SMA sudah 'ngekos'). Majalah --tepatnya jurnal-- Prisma dari LP3ES sering saya dapatkan di kaki lima itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena suka dengan perkembangan politik, sering beli juga majalah Panji Masyarakat --majalah paling populer di tahun 80-an (selain Tempo tentunya). Kalau korannya pilih Pelita yang suka mengkritik pemerintah dan Golkar (terutama menjalang Pemilu). Di SMA pula mengenal stensilan 'Mahasiswa Menggugat' dari kakak seorang teman yang kuliah di UI. Buku --karena mahal-- sering baca di perpustakaan sekolah (yang alhamdulillah lumayan bagus karena siswa yang lulus wajib menyerahkan buku bebas ke sekolah). Buku Humanisme Islam-nya Maurice Bucaile sudah ada di perpus SMA N 1 Slawi, juga buku-2 Harun Nasution (Filsafat Agama), Nazwar Syamsu, dan HM Rasyidi. Tentu saja buku-2 sastra dari semua angkatan tersedia cukup lengkap. Di perpus SMA pula saya membaca majalah (An-Nur?) milik Ahmadiyah. Rupanya ada pegawai TU yang pengikut aliran ini, dan dia punya cara 'menebar' ajaran dengan menaruh majalah itu di perpus agar dibaca orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit.. kok jadi membicarakan masa lalu? Bukankah topiknya ingin membahas bagaimana anak kita suka membaca?  Aduh.... ngelantur nih. Ok, satu keadaan yang sebenarnya tidak di-skenario oleh orang tua, saya menjadi suka mendengar berita radio, mulai membaca buku-buku orang dewasa dan pengaruhnya adalah pada minat yang begitu besar pada bidang sosial-politik, sehingga jadilah ketika memilih jurusan saat diberi formulir PMDK saya memilik FISIPOL UGM, jurusan Komunikasi. Yang ingin dijadikan patron, patern, atau pola adalah: bagaimana agar anak-anak kita suka membaca...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman waktu kecil, saya pun tidak meminta dengan 'paksa': hai nak, kamu baca buku ini, buku itu, dst.... Tapi lebih kepada menunjukkan contoh. Rak buku dibiarkan terbuka, sehingga anak bisa melihat-lihat koleksi dan siapa tahu (siapa tahu yang sebenarnya: diharapkan) tertarik untuk membaca. Ketika jalan-2 ke mall, tak lupa juga mampir toko buku... dan mempersilahkan mau beli buku apa.... Kalau minta dibelikan mainan kadang dibelokan: mending kamu beli buku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-8236974237292014040?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/8236974237292014040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/03/anak-anda-malas-membaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/8236974237292014040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/8236974237292014040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/03/anak-anda-malas-membaca.html' title='Anak Anda Malas Membaca?'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769065968446313466.post-5122052640765283383</id><published>2009-02-05T10:09:00.000-08:00</published><updated>2011-12-02T20:47:10.552-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni budaya'/><title type='text'>Yoga, Menyehatkan!</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Bersama Ragil Suwarno Pragolapati di akhir dekade 80-an, saya ikut pelatihan yoga di Pantai Parangkusumo Yogyakarta. Sebagai murid kami saat itu cuma berdua, saya dan Mas Yulianto Puji Winarno. Empat hari yang berkesan, namun tidak di-follow up ke tingkatan pelatihan selanjutnya alias rontok di tengah jalan... sehingga Mas Ragil menuliskannya dalam puisi "Yogawan Rontokan". Puisi itu mungkin ditujukan kepada saya (dan teman yang lain) yang berhenti belajar yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu saya baca dalam kumpulan puisi yang diterbitkan sekian tahun setelah beliau wafat di pantai Parangtritis (awal 90-an?). Yang saya ingat beliau mengajarkan bukan hanya yoga sebagai olah fisik dengan olahraga pernafasan... tapi yoga secara luas dalam pengertian bagaimana yogawan mengarungi samudra kehidupan -- atau istilah sekarang Universitas Kehidupan. Dan tidak seperti yoga dalam bentuk asli yang menjadi bagian dari ritual agama tertentu (sehingga ulama sebagian mengharamkan), namun beliau memasukan bacaan-2 'Islami' dalam praktik olah nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya ikut yoga lagi, tapi bukan sebagaimana Mas Ragil alm ajarkan, yang saya ikuti sekarang murni yoga sebagai olah raga pernafasan dan oleh tubuh. Tidak ada sama sekali kaitan dengan agama tertentu, hanya karena gerakannya sama dengan yoga maka disebutlah yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman kantor pusat Rita di Pereng Purwokerto, tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu jam 05.00 pagi sampai jam 06.00. Ada yang mau bergabung ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1769065968446313466-5122052640765283383?l=puadhasan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://puadhasan.blogspot.com/feeds/5122052640765283383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/02/yoga-menyehatkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/5122052640765283383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769065968446313466/posts/default/5122052640765283383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://puadhasan.blogspot.com/2009/02/yoga-menyehatkan.html' title='Yoga, Menyehatkan!'/><author><name>PUAD HASAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06950618055344074473</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_5WI0wf3jUEs/TSlRgr9dBeI/AAAAAAAAAFE/96XHMix8fmo/S220/IMG_0246.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
