Minggu, 15 Mei 2016

Komunisme: bahaya laten atau isu laten?

Tulisan ini sama sekali tidak ingin mendukung komunisme, sebab secara legal jelas paham itu dilarang di sini. Selain alasan legal formal, juga secara historis tidak ada satu negara pun yang dianggap sukses menjalankan paham itu sebagai platform dan sistem kenegaraan. Uni Soviet terpecah belah, China mungkin tidak lagi disebut komunisme murni mengingat banyaknya arus modal yang masuk ke negeri itu. (Modal / kapital adalah 'musuh' komunis, bukan?). Demikian pula Vietnam.

Namun bahaya laten komunis dan isu komunis (demi kepentingan tertentu) timbul tenggelam di sini. Logo palu arit yang ditengarai marak akhir-akhir ini di berbagai kota, broadcast sekelompok anak muda menggunakan kaos berlogo PKI lewat medsos, dan sejumlah acara oleh eks tahanan atau mereka yang masih 'keturunan' PKI menjadi isu hangat akan bahaya laten PKI. Razia pun dilakukan TNI/Polri ke sejumlah kawasan/pertokoan/toko sablon mengendus kalau ada kaos berlogo palu arit (PKI).

Sebagai paham yang pernah mendapat tempat di Indonesia (ditunjukkan dengan menjadi partai ke-4 dalam Pemilu 1955), di sisi lain menjadi momok karena sejumlah pemberontakan, kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan PKI, komunisme akan selalu menjadi bahan gunjingan dan isu yang menarik. Bahkan 'maaf-memaafkan' pun menjadi term yang bisa menghasilkan narasi dan diskusi panjang.

Sebagai bahaya, apakah memang ada riil gerakan yang ingin menghidupkan kembali paham komunisme di Indonesia? Apakah mereka sedang benar-benar ingin menghidupkan kembali PKI? Dalam diskusi-diskusi kecil mungkin ada di antara mereka yang membahas ini, saya tidak tahu. Aparat intelejen tentu tahu. Apakah ada fakta tersebut? Atau jangan-jangan hanya cerita? Atau mungkin ada fakta beberapa orang memang ingin menghidupkan kembali PKI, namun fakta itu 'diceritakan' sebagai suatu bahaya besar yang sudah di depan mata. Melihat kucing sebagai harimau?

Namun, bagaimanapun kewaspadaan harus selalu dijaga. Luka lama jangan terulang.

Minggu, 23 Agustus 2015

'Semut Hitam' menutup pesta rakyat Jawa Tengah 2015

Rocker gaek yang sudah menjadi legenda Ahmad Albar menutup Pesta Rakyat Jawa Tengah 2015 yang digelar memeperingati HUT Jawa Tengah ke-65, di pelataran GOR Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Lagu populer di tahun 80-an Semut Hitam menandai berakhirnya pesta rakyat yang berlangsung sejak 21 Agustus hingga 23 Agustus 2015 malam.

Ahmad Albar tampil bersama gitaris rock yang juga melegenda: Ian Antono. Berkolaborasi dengan Rockestra (?) dari Semarang. Tak kurang dari 6 lagu dibawakan rocker yang besar bersama grup God Bless. Lagu-lagu slow rock seperti Syair Kehidupan, Panggung Sandiwara dan Rumah Kita mampu mengobati kerinduan warga Purwokerto dan sekitarnya, khususnya penggemar musik rock. Juga lagu heavy rock macam Menjilat Matahari dan lagu pamungkas Semut Hitam.

Sebelumnya tampil Kikan, yang dalam satu sesi membawakan lagu Bendera berama Yodha Idol.

Ahmad Albar di GOR Satria Purwokerto
Namun bagi generasi yang lahir di tahun 60-an atau 70-an, God Bless lah yang dinantikan. Makanya, banyak di antara penonton yang sudah tampak berusia paruh baya, selain tentu anak-anak muda pencinta rock music, yang setia menunggui Ahmad Albar dan Ian Antono tampil di penghujung acara puncak Pesta Rakyat Jawa Tengah yang digelar di Kabupaten Banyumas tahun ini.

Ahmad Albar yang tahun ini berusia hampir sama dengan usia Republik Indonesia, -- 69 tahun (lahir di Surabaya 18 Juli 1946), masih mampu tampil energik, sekalipun di beberapa nada tinggi terpaksa harus menurunkan nada. Namun secara keseluruhan masih mampu menghibur wong Banyumas alias warga panginyongan.

Ahmad Albar masih memukau di Pesta Rakyat Jateng 2015
Ahmad Albar dan Ian Antono, bersama Kikan, diundang khusus oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk tampil di acara puncak Pesta Rakyat Jawa Tengah 2015, karena kecintaan Ganjar pada musik rock. Lebih khusus, Kikan disebut Ganjar sebagai musisi yang tidak hanya mencari materi, namun memiliki idealisme yang tinggi selain lagu-lagunya yang bernuansa nasionalisme. Kikan pernah menolak tampil di sebuah acara karena harus menandatangani kwitansi bodong alias tidak ditulis nominalnya. Hal yang rawan untuk manipulasi dan mark up oleh panitia. Ahmad Albar dan Ian Antono tentu karena senioritas di blantika musik Indonesia.

"Kita harus berterima kasih kepada Pak Ganjar Pranowo, karena berkat beliau lah kita ada di sini", kata Ahmad Albar tentang Ganjar Pranowo yang telah mengundangnya hadir di Purwokerto, di acara HUT Jawa Tengah yang ke-65.




Jumat, 09 Januari 2015

Tragedi Charlie Hebdo: tentang tata cara hidup bersama dalam 'desa dunia'

Tragedi penembakan yang menewaskan 12 orang di kantor majalah satire mingguan Perancis Charlie Hebdo, mendapat banyak perhatian dunia. Komentar pun bermunculan, yang mencerminkan cara pandang yang berbeda-beda. 

"Kalau kita berpikir, di negara seperti Prancis, Anda bisa mati karena ide-ide Anda atau bagaimana Anda ingin bicara, itu sangat mengejutkan,", kata Arsene Wenger, manager Arsenal, asal Prancis, tentang penembaan di kantor majalah yang terbit sejak 1969 itu, seperti dilansir detik.com.

Komentar Arsene Wenger tentu saja mewakili sebagian besar pandangan orang Prancis tentang 'kebebasan'. Bahwa apa pun tulisan, kata-kata, gambar boleh di-ekspresikan kepada publik, tenang kebebasan berpendapat. Tidak ada batasan etika, unggah-ungguh, ewuh pakewuh, apalagi 'perasaan' apakah sebuah publikasi mengandung penghinaan, pelecehan, atau hujatan kepada pihak lain. 
Ini seperti kata Stephane Charbonnier, pemimpin redaksi Charlie Hebdo yang ikut tewas, bahwa sebagai warga negara Prancis dia bisa menerbitkan apa saja :"Saya hidup dalam undang-undang Prancis. Saya tidak hidup berdasarkan undang-undang Al-Quran".
Bagi Charbonnier, Nabi Muhammad dan siapa pun tokoh boleh dibikin satir, dikritik, diparodikan, 'diplesetkan'. Ia tidak memiliki dan tidak mengenal 'tenggang rasa', tidak bisa membayangkan dan memposisikan diri, membayangkan perasaan para pengikut Nabi Muhammad, bahwa itu adalah hal yang dilarang karena Nabi Muhammad itu tokoh, nabi sekaligus rosul yang maksum (tanpa dosa karena mendapat bimbingan Allah sebagai utusan-Nya). 
Ia juga 'lupa' bahwa sekalipun ia hidup di Prancis, dengan 'konstitusi'-nya, ia juga hidup di planet bumi yang sudah menjadi global village, sebuah 'desa dunia' yang dihuni beragam manusia dengan beragam kepercayaan dan agama, dimana informasi kini berkembang sedemikian cepat, bahkan real time online. 
"Muhammad tidak suci bagi saya," jelasnya dalam wawancara dengan kantor berita AP pada tahun 2012, ketika kantor Charlie Hebdo terbakar karena serangan bom molotov. 
Barangkali tidak masalah kalau perkataan-nya itu masih sebatas obrolan yang tidak dipublikasikan. Atau sebuah pandangan pribadi yang 'sah' bagi siapa pun. Namun ketika pandangan itu kemudian diekspresikan dan dipublikasikan dalam bentuk gambar dan tulisan yang disebarkan kepada publik, lewat 'media massa', itu bagi pihak lain bisa dianggap sebagai provokasi dan sengaja membuat permusuhan. 
Apakah para penembak itu sudah lama mengincar Charlie Hebdo? Yang jelas tahun 2007 Charlie Hebdo harus membela diri di pengadilan sehubungan dengan kartun Nabi Muhammad, yang dicetak ulang di majalah itu, dan membuat marah umat Muslim dunia. Namun satir majalah yang antikemapanan itu amat beragam, termasuk membuat lelucon dari aspek-aspek Kristen dan Yudaisme.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Charbonnier mengatakan insiden serangan bom molotov ke kantornya pada 2011 merupakan serangan atas kebebasan dari 'ekstremis idiot' yang tidak mewakili komunitas Islam di Prancis. Begitulah 'kebebasan' bagi Charb, dan sebagian lagi di belahan dunia lain, adalah boleh menulis, menggambar, mempublikasikan apa saja dengan cara bagaimana pun. Tidak ada batasan, minimal simpati, bahwa itu menyinggung dan melukai perasaan orang lain. 
Masalahnya, apakah kekerasan (penembakan) harus dilakukan? Menarik komentar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Komaruddin Hidayat, yang menilai kejadian penyerangan kantor Media Charlie Hebdo di Paris telah mencederai bangunan peradaban dan menimbulkan fitnah.
"Bagi saya keduanya telah mencederai bangunan peradaban dan menimbulkan fitnah yang merusak hubungan antar budaya dan agama yang tengah kita bangun bersama," ujar Komaruddin Hidayat, dilansir covesia di Jakarta, Jumat (9/1/2015). 
"Keduanya" itu menurut Komarudin Hidayat adalah :
(1) Media di Barat mestinya tahu apa saja yang dianggap tabu oleh umat Islam. Sebagaimana mereka tahu bahwa holocoust itu tabu dihujat bagi Yahudi;
(2) Penyerangan secara fisik dan brutal dengan alih membela agama juga tidak benar. Karena ini jelas mencederai nilai-nilai kemanusian dan agama;
Ia lalu menghimbau, seperti yang dilakukan masyarakat Australia, masyarakat muslim di Paris atau non muslim jangan terpancing dan memperburuk hubungan. Tunjukkan kekompakan untuk bersama menjaga kerukunan dan kedamaian serta melakukan kritik diri. Penghinaan dan penyerangan, baik verbal maupun fisikal, hanya akan menciptaan kebencian dan keresahan.
'Desa Dunia' ini tampaknya memang butuh tata cara hidup bersama baru, yang tidak hanya terkait dengan tata cara hubungan ekonomi dan politik, tetapi bagaimana tata cara itu juga meliputi hubungan antar ummat beragama sedunia, mana batasan yang harus saling diketahui. Sehingga kebebasan, termasuk kebebasan berekspresi melalui media dengan 'pena' tidak menjadi 'racun' bagi dunia. 
MP, 090115

Rabu, 24 Desember 2014

Air Mancur Berkoh Purwokerto kini sudah mancur lagi...

Setiap hari saya berangkat-pulang kerja melewati bunderan air mancur Berkoh. Salah satu ikon Purwokerto yang sempat tak terurus. Kini, air mancur bunderan Berkoh sudah tampak cantik lagi. Air mancur yang mengelilingi tugu Adipura itu, dibenahi sejak tahun lalu ketika Bupati Banyumas Pak Ahmad Husen ingin merebut kembali piala Adipura sebagai lambang kebersihan dan keindahan suatu kota, setelah belasan tahun piala itu lepas dari Kabupaten Banyumas.

Dan di tahun 2014 ini, piala Adipura kembali bisa diraih oleh Kabupaten Banyumas. Kini Banyumas tidak lagi minder dengan kabupaten tetangga (Purbalingga) yang secara beruntun tiap tahun meraih Adipura. Tentu tidak hanya karena perbaikan air mancur ini sehingga Adipura bisa diraih. Tapi makna yang dalam dari air mancur ini adalah karena di tengah air mancur itu ada tugu lambang piala Adipura yang sempat belasan tahun 'hilang' dari Banyumas.

Letak sebenarnya di tengah-tengah proliman Pancurawis, yang menghubungkan Jalan Gerilya dengan Jalan Sudirman Timur, Jalan Suparjo Rustam arah ke RS Margono, Jalan ke arah Mersi dan Jalan Sunan Giri. Namun karena air mancur sendiri sudah menjadi nama yang sangat dikenal, maka bunderan itu lebih terkenal sebagai 'bunderan air mancur'. Memang hanya itulah air mancur satu-satunya yang ada di kota Purwokerto.

Sempat tidak terurus selama beberapa tahun, ditandai dengan air yang kotor, lumutan, tugu Adipura yang kusam, dan air mancur yang 'tdak mancur', bahkan sempat menjadi kolam pancing. Kini setelah direhab bak air dan 'kluwung'  bunderan-nya, sudah menampakkan keasriannya. Karena keindahanya itu pula, beberapa pasangan menjadikannya sebagai background foto pre wedding. Pasangan berdiri atau duduk di tembok kluwung air mancur, dengan pose mesra dan romantis, seromantis gerakan-gerakan air yang  terus memancar dan memancur ke arah tugu Adipura.

Di malam hari dengan lighting yang cerah, pancuran air nampak berkilau, dan jika angin bertiup, pancuran air akan bergoyang berliuk-liuk...kalau cuaca cerah, beberapa orang suka duduk-duduk di bunderan air mancur itu. Asyik juga ya...

photo: KLIKMG.COM photographer Indonesia

Khalil Gibran dan Pencarian Kesempurnaan Hidup

Khalil Gibran
Suatu hari, Khalil Gibran --seniman, penyair dan penulis kelahiran Lebanon-- bertanya kepada gurunya :
"Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?"

Sang Guru : 
"Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali kebelakang..!"

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya :

"Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun...???" 

Gibran : 
"Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi..!" 

Sambil tersenyum, Sang Guru berkata : 
"Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya. Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.." 

Pesan moral bisa kita ambil dari penggalan kisah di atas:
• Bila tak kuasa memberi, jangan mengambil. 
• Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci. 
• Bila tak mampu menghibur orang, jangan membuatnya sedih. 
• Bila tak mungkin meringankan beban orang lain, jangan mempersulit/memberatkannya. 
• Bila tak sanggup memuji, jangan menghujat. 
• Bila tak bisa menghargai, jangan menghina.

"JANGAN MENCARI KESEMPURNAAN, tapi sempurnakanlah apa yg telah ada pada kita..."

*) dari posting-2 di BBM dan WA (ditulis kembali di blog ini agar kata-kata bijak ini bisa dibaca orang lain).

Kamis, 04 Desember 2014

Stalagmit dan stalagtit sebagai idola wisata - belajar dari Ha Long Vietnam

Ha Long Vietam
Stalalagmit dan stalagtit menjadi tujuan dan idola wisata. Di pelajaran Geografi kita ingat stalagmit adalah batuan yang terbentuk di lantai gua, yang berasal dari tetesan air di langit-langit gua di atasnya, sedangkan stalagtit adalah sejenis mineral sekunder (speleothem) yang menggantung di langit-langit gua. Stalagmit dan stalagtit adalah bentuk khas daerah Karst yang terbentuk dari proses pelarutan air di daerah kapur secara terus-menerus. Air yang larut akan masuk ke lubang-lubang yang turun ke gua dan akan menetes ke dasar gua. Tetesan-tetesan itu akan akan berubah menjadi batuan berbentuk runcing. Stalaktit membentuk batuan meruncing ke bawah, sedangkan stalagmit membentuk batuan meruncing ke atas.

Gua-gua dengan stalagmit dan stalagtit inilah yang menjadikan kesan artistik, membentuk aneka gambar yang bisa dipersonifikasi (menyerupai hewan, bentuk tubuh manusia, dll). Nah Vietnam memiliki gua-gua favorit dengan stalagmit dan stalagtit yang aduhai. Menariknya gua-gua itu ada 'di dalam' gugusan pulau-pulau karang. 

Salah satunya di gugusan-gususan pulau karang di kawasan Ha Long. Di ‘Raja Ampat’-nya Vietnam ini terdapat gugusan-gugusan pulau karang yang berjumlah ribuan. Di antara gugusan pulau-pulau itu, di dalamnya, terdapat gua-gua yang eksotik. Tak pelak ini menjadi destinasi wisata yang meggairahkan Vietnam.

gugusan pulau karts Ha Long





Untuk mencapainya kita harus cruissing, naik kapal wisata dari pelabuhan Ha Long menngarungi laut, berlayar di antara gugusan pulau karang. Pemandangan sangat indah. Karang-karang yang menyembul dari dasar laut itu berdiri kokoh, tak bergeming diterpa ombak laut Cina Selatan. Di lihat dari atas, konon gugusan-gugusan pulau karang ini akan tampak seperti seekor naga. Naga yang dipercaya sebagai ‘pelindung’ bagi Vietnam.

Jasa cruising ini banyak tersedia. Cruise eksekutif, bisnis, atau ekonomi. Biro tour biasanya sudah memesan jauh hari untuk jadwal rombongan. Sehari sebelum cruising, kita disarankan sudah menginap di Ha Long City, tidak berangkat dari Hanoi, karena perjalanan darat dari Hanoi ke Ha Long cukup lama (kira-kira 4-5 jam). Tersedia pilihan hotel bagus di Ha Long city.

Dengan menginap di Ha Long, kita berkesampatan mengunjungi night market (pasar malam), atau duduk-duduk di pinggir pantai menikmati kopi, air tebu, atau jajanan Vietnam. Paginya baru berangkat ke pelabuhan.

Asyiknya cruissing ini, kita bisa makan siang di kapal. Sajian sea food dengan cita rasa masakan khas Vietnam yang dimasak langsung di atas kapal. Hmm.. makan siang dengan semilir angin laut, dengan pemandangan gugusan batu karang dengan bentuk beragam, terasa romantis, dan maknyuss... terlebih cruising bersama orang-orang terkasih. Paket cruising ‘overnight’ alias bermalam di atas kapal juga tersedia di Ha Long.



Tentang gua itu, sebenarnya sama dengan gua-gua yang di Indonesia. Sebut saja Gua Petruk di Jatijajar Kebumen Jawa Tengah, Gua-gua di Pangandaran Jawa Barat, gua Tambuhan di Pacitan Jawa Timur, gua Lawa di Purbalingga Jawa Tengah, gua Pindul di Gunungkidul Yogyakarta, gua Londa di Toraja, dan masih banyak lagi. Bedanya, di Ha Long ini gua berada  di gugusan pulau karang di tengah laut. Dan, karena dikelola dengan baik, maka lebih nyaman dan menyenangkan.

Lampu-lampu dengan sorot warna-warni menyembul dari balik stalagmit dan stalagtit. Tanpa kelihatan kabel atau bola-bola lampu itu. Temaram sinar lampu membuat stalagtit nampak lebih eksotik, karena tidak terlalu terang... namun pengunjung tetap bisa berjalan menelusuri gua. Jadi kita tidak perlu menyewa center seharga Rp. 10.000 seperti di gua Pangandaran (harga centernya saja mungkin hanya 15 ribu... he3), karena sudah ada lampu. Di Londa Tana Toraja, bahkan harus meminta penghantaran dari ‘petugas’ yang membawa lampu petromak (jadul banget yah..). Tentu saja dengan membayar mereka.

Tidak pula ada grafiti, corat-coret dengan spidol atau cat pylox di dinding gua, seperti banyak kita temui di gua Petruk Jatijajar Kebumen.

Mungkin gua-gua di negeri kita bisa dikelola dengan lebih baik. Seperti dengan pemberian lampu yang menambah ke-artistik-an stalagtit stalagmit, dan larangan corat-coret. Kementrian Pariwisata mudah-mudahan saja punya program ke arah sana. 021214 



kapal yang siap mengantar Anda


Minggu, 30 November 2014

Pesan untuk Presiden Jokowi dari Penjual Pisang Epe Pantai Lasiana



Pantai Lasiana
Ini cerita tentang Kupang. Kota yang dibangun di atas batuan karang. Nyaris tidak terlihat hamparan tanah di kota terbesar sekaligus menjadi ibu kota Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Namun bukan berarti tanpa tumbuhan dan pepohonan. Di sepanjang jalan, utamanya jalan-jalan baru, ada jalur hijau yang saat musim hujan akan menghijau dan rimbun, apalagi saat musim bunga tiba, pohon-pohon itu akan tampak indah menyejukkan. 

Saya mengunjungi Kupang di akhir September, saat cuaca bisa mencapai 34 derajat (bahkan lebih). Tentu saja terasa panas. Edmundo, staf kantor di mana saya mengadakan kunjungan, bilang bulan yang baik kunjungan ke Kupang adalah antara Pebruari-Maret, dimana udara terasa nyaman (tidak lembab) dan bunga-bunga pepohonan tengah mekar, menyembulkan warna-warni dengan dominasi warna kuning dan orange kemerahan. Hmm .... sayang saya harus kunjugan di bulan September.

Oke. Saya nikmati saja keadaan ini. Saya pun minta di antar keliling kota, berkunjung  ke tempat-tempat penting kota Kupang. Maka salah satu yang dikunjungi adalah Pantai Lasiana, yang berada di sebelah timur kota Kupang, sekitar 20 menit perjalanan dari pusat kota. Karena bukan hari Sabtu atau Minggu, suasana sore itu sepi. Namun terdengar suara ‘jedag-jedug’ sound system dari sebuah cafe. “Itu diskotek Pa..”, kata Ed tanpa saya tanya.

Hampir magrib, namun masih ada beberapa orang duduk-duduk di kedai dengan lampu yang sudah menyala, tapi tidak terlalu terang. Kedai ini menjual pisang epe, siwalan, kelapa muda, dan aneka minuman. Pisang epe adalah kuliner yang khas di Pantai Lasiana Kupang. Pisang kapok (Jawa) yang tidak terlalu matang dibakar (dipanggang) dengan perapian kayu, lalu dilumuri coklat, keju, susu dan kacang. “Ini makanan khas Kupang, Pa”, kata si ibu berbadan tambun, sang penjual pisang epe.

“Enak.. rasa pisangnya masih terasa, ada sepet-sepet sedikit, tapi enak”, kata saya memuji. Tapi pujian saya bukan basa-basi agar si ibu senang. Ini jujur. Saya jadi ingat waktu kecil sering membakar pisang setengah matang yang di kebun (ladang) dekat kampung.

Pisang Epe khas Kupang
Sambil makan pisang epe bakar dan buah siwalan, ngobrol sana-sini sama si ibu yang saya lupa menanyakan namanya (saya pikir tidak terlalu penting sih). Dari soal perkembangan kota Kupang, kondisi pariwisata yang menurun, sampai operasi (razia petugas) ke lokasi pantai di malam hari.

Si ibu ini rupanya mengikuti perkembangan berita politik. Tentang Jokowi dan misi ke depannya berupa ‘poros maritim’ terinformasi ke dia. Ia lalu berujar, kalau memang maritim atau laut menjadi primadona, seharusnya bangunan-bangunan –hotel, ruko atau bangunan lain—dibangun menghadap ke laut. Bukan seperti saat ini, bangunan ‘membelakangi’ laut, dan pandangan justru ke 'gunung dan daratan'. 

Memang saya lihat bangunan yang ada saat ini membelakangi laut, dimana pantai tidak terlihat dari jalan raya dan tidak terasa kalau kita berada  di kota yang berpantai. Seharusnya, usul si ibu, bangunan menghadap ke laut, di depan bangunan ada jalan raya namun area antara jalan raya dan pantai (laut) tidak ada bangunan lagi sehingga pandangan kita benar-benar ke laut. Tidak seperti sekarang bangunan menutupi pantai. Saya lihat hanya satu bangunan besar (Hotel Aston) yang didesain menghadap ke laut. 

Bahkan di kota lama Kupang, hanya ada satu tempat yang kita bisa melihat laut secara langsung -- Ed bilang tempat nongkrong anak-anak muda di malam minggu. Di luar itu bangunan benar-benar padat dan laut berada di belakang bangunan ruko-ruko.  

Soal kedai-nya yang akhir-akhir ini sepi, si ibu mengeluhkan pembangunan mall-mall baru yang menyediakan juga tempat makan (food court) sehingga orang yang mau jajan tidak lagi pergi ke pantai Lasiana, tapi cukup di food court di mall. “Tapi bagaimana lagi ya Pa... ini sudah keharusan barangkali”, kata si Ibu membersitkan kepasrahan.

Suara si Ibu ini mungkin mewakili pandangan orang pantai, yang hidup dari 'kedekatannya' dengan dunia maritim dengan segala kemanfaatanya. Mungkin apa yang disampaikan merupakan pesan pada pemerintah sekarang, pesan untuk Presiden Jokowi, kalau memang maritim mau menjadi poros, maka pengambangan suatu wilayah pun harus ‘berpihak’ alias berorientasi pada laut, pantai, dan aspek kemaritiman lainnya. Ini pesan dari seorang ibu penjual pisang epe di Pantai Lasiana Kupang, yang boleh jadi mewakili suara mereka yang hidup dari kemaritiman.

Di tempat lain, Pangandaran misalnya, saya lihat bangunan permanen di pinggir pantai sudah menghadap ke laut. Di depan bangunan-bangunan itu (hotel, rumah, rumah makan) ada jalan raya, namun di seberang jalan raya tidak ada bangunan lagi (kecuali bangunan semi permanen – kedai-kedai) dan jalan raya berbatasan langsung dengan pantai. Mungkin si Ibu penjual pisang epe ini ingin kotanya seperti Pangandaran, kota kelahiran menteri Perikanan dan Kelautan, yang walaupun belum pernah ke Pangandaran si ibu ini bisa berimajinasi apa itu arti ‘poros maritim’. Persis seperti ditulis Ignas Kleden di kolom opini harian Kompas.

24112014 
Sabagian wajah Kupang sore hari:...
Pohon sebagian meranggas di Kupang (Puad Hasan)

Salah satu jalan baru Kupang (Puad Hasan)
Sunset Kupang (Puad Hasan)
 Foto Pantai Lasaiana by Sidisadili;

Jumat, 21 November 2014

Melongok Musoleum Ho Chi Minh - Bapak Revolusi dan Negarawan Vietnam

Musoleum Ho Chi Minh - Hanoi
Timnas PSSI sedang mengikuti turnamen Piala AFF 2014 di Hanoi, yang dimulai 22 Nopember ini, Ingat Hanoi jadi ingat perjalanan saya ke Hanoi di akhir Agustus 2014 lalu. Lumayan dapat reward jalan-jalan dari kantor. Ada apa di Hanoi -- salah satu dari 2 kota besar di Vietnam, selain Ho Chi Minh City (d/h Saigon)?

Pertama-tama yang saya ingat, karena ketertarikan saya pada sejarah, adalah tokoh legendaris Vietnam Ho Chi Minh. Ia seperti Soekarno bagi Indonesia. Ia tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan dan menyatukan Vietnam. Bedanya dengan Soekarno, Ho Chi Minh berjuang dengan berpetualang di luar negeri (sekitar 30 tahunan), di Paris, London, Rusia dan Cina. Sedangkan Soekarno berjuang dari satu tempat pembuangan ke pembuangan lain di dalam negeri.

Saya pun tidak melupakan mengunjungi musoleum Ho Chi Minh, tempat jasad Ho diawetkan, untuk mengenang jasa-jasa beliau. Sebenarnya Ho sendiri ingan jasadnya dikremasi, namun ketika meninggal 2 September 1969 para pemimpin Vietnam kala itu bersepakat mengawatkan jasadnya agar jasa Ho dapat terus dikenang, terutama jasanya dalam menyatukan Vetnam setelah dilanda perang saudara berkepanjangan antara Vetnam Utara dengan Vietnam Selatan.

Halaman musoleum yang luas - pengunjung berbaris rapi

Memasuki area musoleum, pengunjung harus berpakaian sopan: tidak boleh pakai celana pendek atau tank top bagi perempuan. Barang bawaan simpel, tas gendong tdak boleh dibawa masuk sejak pos penjagaan pertama. Tidak boleh memotret sampai usai (keluar) dari bangunan musoleum, yang berupa bangunan mirip kubus (kotak), dikelilingi tiang-tiang kokoh, dengan warna tembok/keramik  abu-abu tua. Banyak polisi (petugas) berjaga.

Berjalan pun harus berbaris, dengan shaf 2 baris. Tidak boleh bergerombol atau tidak beraturan. Ini wujud penghormatan untuk tokoh besar Vietnam. Dan... memasuki musoleum kita menyaksikan dengan jelas jasad Ho Chi Minh, sang pencerah yang menerangi Vietnam (sesuai namanya; Ho yang menerangi), membujur tenang. Wajahnya tampak memutih, dengan sedikit janggut yang dibiarkan tidak bercukur. Penduduk asli Vietnam membungkuk untuk memberi hormat ketika 'berhadapan' dengan wajah sang pahlawan. Sama sekali tidak boleh memotret. Bahkan berlam-lama pun tidak boleh. Kita hanya boleh memandangi sambil terus berjalan. Ada petugas berjaga di pintu masuk, di dalam dan di pintu keluar bangunan kotak yang kokoh itu. Mereka yang berhenti, langsung diingatkan untuk segera berjalan. Wow.. negara komunis saja tidak boleh ada 'penyembahan' untuk tokoh pahlawan-nya yah...

Sekilas Ho Chi Minh dapat dilihat di wikipedia. Hồ Chí Minh (chữ nôm: 胡志明) (19 Mei 1890 – 2 September 1969) adalah seorang tokoh revolusi dan negarawan Vietnam, yang kemudian menjadi Perdana Menteri (1954) dan Presiden Vietnam Utara (1954 - 1969). Selain itu, Ho Chi Minh merupakan salah satu politisi yang paling berpengaruh di abad-20.

Nama aslinya adalah Nguyễn Sinh Cung, dan juga dikenal sebagai Nguyễn Tất Thành, Nguyễn Ái Quốc (sebuah nama yang sering digunakan orang lainnya juga), Lý Thụy, Hồ Quang dan akrab dipanggil Bác Hồ (paman Hồ) di Vietnam. Kota Saigon yang dulunya merupakan ibukota Vietnam, diganti menjadi kota Ho Chi Minh untuk mengenang jasanya.

Karena kesederhanaan-nya Ho Chi Minh tidak mau tinggal di istana megeh peninggalan Perancis ini

Ho Chi Minh dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, hemat, berpakaian santai, berbicara dengan tenang, jarang kehilangan kesabaran, dan sering berbicara dengan penduduk, terutama anak-anak. Sebelum meninggal, Ho berpesan agar tubuhnya dikremasi dan abunya disebarkan tanpa publikasi. Namun, ketika Ho meinggal pada 2 September 1969 pukul 9.47 pagi, di usia 79 tahun, jasad Ho diawetkan dan diletakkan dalam mausoleum Ho Chi Minh, Lapangan Ba Dhin, Hanoi dan terbuka untuk publik. Para pihak yang bertikai di seluruh Vietnam sepakat untuk mengadakan gencatan senjata selama 72 jam untuk mengenang Ho yang meninggal akibat serangan jantung. Ho meninggal tepat 25 tahun setelah dia mendeklarasikan kemerdekaan Vietnam dari Perancis dan hampir enam tahun sebelum pasukannya berhasil menyatukan Vietnam Utara dan Selatan di bawah paham komunis.

Ho Chi Minh merupakan pahlawan terbesar bagi bangsa Vietnam karena jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan penyatuan Vietnam. Ketika pasukan Vietnam Utara berhasil menaklukkan Saigon pada tahun 1975 dan menandai penyatuan Vietnam, maka kota tersebut diganti menjadi kota Ho Chi Minh. (22112014)

Rumah yang dipilih Ho Chi Minh untuk tinggal, dengan ruangan-2 yang sederhana. Mobil Kepresidenan era Ho Chi Minh dan kolam di sekitar musoleum dan rumah Ho sang penerang Vetnam.


Arti tembang Sluku-sluku bathok

Penyebar agama Islam di Pulau Jawa yang dikenal sebagai Wali Songo memiliki kemampuan berdakwah secara kultural yang diakui hebat. Melalui budaya, para wali merebut simpati. 

Salah satu pesan Wali Songo melalui tembang "Sluku-sluku bathok", yang terkenal di Pulau Jawa dan sering dinyanyikan oleh anak-anak, paling tidak sampai era 70-an. Sayang saat ini sudah jarang (bahkan tidak pernah) terdengar lagi...

Tembang ini menuturkan:
🎵  Sluku-sluku bathok 🎵

Bathok (= kepala/otak) kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuan. Kalo diforsir terus bisa aus, stress, hang, macet daya pikirnya.

🎵Bathoke ela-elo 🎶...🎵

Dengan cara berdzikir (ela-elo = Laa ilaaha ilalloh), mengingat Alloh akan mengendurkan syaraf neuron di otak.

🎵Si Rama menyang Sala🎵;

Siram (mandilah, bersuci) menyang (menuju) Sala (Sholat). Lalu bersuci dan dirikanlah sholat.

🎵Oleh-olehe payung motha🎵

Yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Alloh,
Kalo Alloh sudah melindungi, tak ada satupun di dunia ini yang kuasa menyakiti kita, tak satupun.

🎵Pak jenthit lolo lo bah🎵:

Kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu.
Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat.
Sehingga saat kita hidup, kita harus senantiasa bersiap dan waspada. Selalu mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati.

🎵Wong mati ora obah🎵.

Saat kematian datang, semua sudah terlambat.
Kesempatan beramal hilang.
Banyak ingin minta dihidupkan tapi Alloh tidak mengijinkan. 

🎵Yen obah medeni bocah🎵:

Jika mayat hidup lagi maka bentuknya menakutkan dan mudharat-nya akan lebih besar.

🎵Yen urip golekko dhuwit🎵:
 
Kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini.
Saat masih hidup pengin kaya, pengin membantu orang lain, pengin membahagiakan orang tua: sekaranglah saatnya, ketika uang dan harta benda masih bisa disumbangkan bagi tegaknya agama Alloh.

Sebelum terlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup. Semoga bermanfaat, dan Allah SWT melimpahkan hidayah rahmat karunia serta barokah-Nya kepada kita semua.
Aamiin yaa Robb...
(dari berbagai sumber)

Ini rute nyaman yang recomended menuju Pangandaran dari Jawa Tengah

Kemana liburan akhir tahun Anda? Kalau Anda orang Jawa Tengah dan mau ke Pangandaran Jawa Barat, saya sharing rute nyaman yang recomended. Saya pernah posting beberapa rute alternatif di blog ini. Tapi saat ini, kondisi jalan ke Pangandaran yang paling baik adalah seperti di bawah ini.

Pertama-tama Anda harus mencapai Wangon. Apakah  Anda dari daerah utara (Pantura -- Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Semarang) atau Anda dari timur (Purwokerto, Purbalingga, Wonosono, Kebumen, Purworejo, Solo, dll) Anda sebaiknya cari jalan terbaik ke Wangon dulu. Dari Wangon Anda ke selatan menuju Jeruk Legi (kota kecamatan sebelum kota Cilacap.

Dari Jeruk Legi ke barat melewati Kawunganten, Gandrungmangu, Sidareja, Kedungreja, Patimuan, Kalipucang, lalu Pangandaran.

Kondisi jalan Jeruklegi - Sidareja - Pangandaran halus dengan aspal hotmix masih baru. Bus pariwisata pun banyak melalui rute ini. Ini jauh lebih bagus daripada Anda melalui jalur Wangon -
Karangpucung- Sidareja, yang banyak tikungan tajam di Lumbir, juga kondisi jalan yang jelek.


Beberapa lintasan jalan agak sempit seperti antara Patimuan - Kalipucang sebelum jembatan sungai Citandui. Namun bus pun bisa berpapasan. Juga jalur Gandrungmangu - Sidareja. Namun secara keseluruhan rute ini layak dan paling nyaman di antara rute alternatif yang ada.

Jadi jalur rute yang nyaman yang recomended adalah: Wangon - Jeruklegi - Kawunganten - Gandrung - Sidareja - Kedungreja - Patimuan - Kalipucang - Pangandaran.

Selamat menikmati liburan Anda bersama keluarga dan orang-orang terkasih.(peta: cilacapmedia)

Banyak yang bisa diabadikan di Pangandaran dan sekitarnya