Selasa, 24 Juli 2012

Tak perlu menunggu 2 abad untuk bisa internetan di desa kami

Menurut wikipedia tanggal 21 Oktober 1879 adalah hari lahirnya lampu pijar listrik pertama oleh tangan si jenius Thomas Alva Edison. Namun baru lebih dari dua abad kemudian -- ya 200 tahun lebih di kemudian hari, yaitu di tahun 1995 kampung kami benar-benar dialiri listrik! Atau 3 tahun sebelum kekuasaan orde baru tumbang! Apa kaitannya denga orde baru? Nanti saya jelaskan.
 

Di Indonesia sendiri baru di akhir abad ke-19 sejarah ketenagalistrikan di Indonesia dimulai. Yaitu ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Pengusahaan tenaga listrik tersebut berkembang menjadi untuk kepentingan umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM yang memperluas usahanya dari hanya di bidang gas ke bidang tenaga listrik. Selama Perang Dunia II berlangsung, perusahaan-perusahaan listrik tersebut dikuasai oleh Jepang. Setelah Indonesia merdeka, tentu saja dikuasai oleh pemerintah Indonesia.


Kembali ke listrik di desa kami, Galuhtimur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Sebelum ada listrik lampu penerangan kami adalah lampu teplok (lampu minyak tanah), gembreng (lampu minyak tanah yang digantung) dan petromak. Beberapa orang kaya memiliki lampu gantung berwarna perak, berukir, dan berkap putih berkilauan. Yang lebih sederhana adalah bekas kaleng susu (atau juga bisa dari botol) yang diisi minyak, kemudian minyak dialirkan melalui sumbu dari lilitan kain yang ujungya dimasukan dalam 'gulungan' seng. Lampu-lampu berbahan bakar minyak tanah ini menghasilkan asap hitam, dan kalau bangun tidur.... begitu mengusap lobang hidung maka jari-jari menghitam, karena ingus yang 'menahan' asap karbon. Saya mengalami belajar dengan lampu-lampu teplok ini dari SD sampai SMP. 

Kalau mau bepergian malam hari pakai 'cleng-ceng', dua ruas bambu yang diisi minyak tanah, kemudian diberi sumbu dari kain. Ini obor ketika kecil kami pergi mengaji 'turutan' atau Juz 'Amma ke rumah guru ngaji. 
 
Lampu petromak adalah barang mewah. Selain boros minyak tanah juga tidak setiap rumah tangga mampu membeli petromak. Merk-merk lampu petromak yang saya ingat: Butterfly dan Ting Kwan. Petromak hanya dinyalakan kalau malam Jum'at, menghormati hari Jum'at yang disebut hari baik. Petromak juga menyala di rumah-rumah yang sedang mengadakan hajatan, pengajian dibahan (pembacaan kitab barzanji atau diba'i) atau mengumpulkan orang untuk tasyakuran atau keramaian lainnya. Saya juga ingat di tahun 70-an sampai 80-an orang-orang main bulu tangkis di malam hari dengan penerangan lampu petromak.  


Sejarah masuknya listrik ke kampung kami hampir bersamaan dengan diaspalnya jalan desa yang menuju kampung kami. Dari jalan besar Tegal - Purwokerto, yaitu dari Kaligadung ke kampung kami yang berjarak kurang lebih 8 km, baru diaspal tahun 1995 (1996?). Sebelumnya untuk menuju jalan besar, jalan masih berupa jalan batu dengan sedikit pasir. Orang-orang menuju ke pasar atau kota lebih suka jalan kaki menyusuri rel kereta api, baik menuju Talok/Bumiayu maupun ke Tonjong/Linggapura. Demikian juga anak-anak sekolah SMP/SMA berjalan menapaki ribuan bantalan rel setiap hari.


Kenapa baru berlistrik dan beraspal mendekati tahun tumbangnya orde baru? Sebab pasti tidak diketahui. Konon, kenapa jalan tidak segera diaspal karena jalur ke desa kami merupakan jalur buntu (tidak nyambung ke desa lain). Namun yang membuat tanda tanya adalah, apakah karena desa kami di masa orde baru Golkar tidak pernah menang? Kalaupun menang, menangnya hanya tipis. Golkar selalu kalah dominan dari PPP. Pernah dalam kampanyenya Golkar mengiming-imingi: kalau Golkar menang, jalan diaspal. Kalau Golkar menang listrik masuk desa. Pernah dalam satu Pemilu menang, tapi nyatanya juga tidak kunjung diaspal dan listrik tidak kunjung masuk. 


Itu masa lalu. Dan tibalah pada saat Kepala Desa dijabat Moch Achir (alm) melalui program Listik Masuk Desa, listrik benar-benar bisa masuk ke desa kami. Itu pun yang berupa Inpres/Banpres hanya sampai ke Galuhtimur I. Untuk yang ke dukuh Karangasem sebagian menggunakan dana swadaya masyarakat untuk pengadaan tiang/pal-nya. Masyarakat rela membayar lebih demi segera menikmati listrik. Demikian juga untuk jalan. Sebagian merupakan inpres desa tertinggal (IDT), program TNI Manunggal, dan juga swadaya masyarakat. Ada pula yang melalui program pembangunan kecamatan (PPK). Kini hampir semua perdukuhan di desa kami terhubung oleh jalan yang dilalui kendaraan roda empat. Namun kondisi jalan antar pedukuhan kondisinya rusak. Listrik juga sudah mengaliri hampir semua perdukuhan. 

Menilik ke belakang sejarah tersebut, yaitu jarak antara penemuan pertama listrik (lampu pijar) di dunia, kemudian listrik pertama kali ada di Indonesia seabad kemudian, lalu di desa kami dua abad kemudian, maka kini rupanya terjadi akselerasi yang luar biasa atas segi-segi kehidupan yang lain. Tekonologi komunikasi dan digital, tidak perlu menunggu berabad-abad untuk baru masuk ke kampun kami. Telkom memang belum ada, tapi telepon seluler mengatasi kendala jaringan kabel. Teknologi komunikasi nirkabel juga memungkinkan internet masuk dengan modem. Produk-produk telepon genggam dan jaringan seluler memungkinkan anak-anak bisa menikmati layanan sosmed. Facebook dan Tweeter bukan lagi barang asing, dan tidak perlu menunggu 2 abad (kelak di tahun 2200-an) -- sebagaimana kami menikmati listrik -- untuk bisa ber-facebook-ria sejak Mark Zuckerberg mempopulerkannya di tahun 2006.


Akselerasi ini menuntut kesiapan untuk menangkal dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan oleh penggunaan teknologi ini. Para pendidik, tokoh masyarakat, ulama, tokoh pemuda perlu mengenali dunia teknologi ini untuk bisa mengurai dampak positif yang harus bisa dielaborasi, dan menemukan solusi atau pemahaman apa-apa yang harus dihindari dari pemanfaatan teknologi komunikasi ini.


MP, Ramadhan hari ke 5 1433 H.


 

Kamis, 07 Juni 2012

Standarisasi masuk sekolah dan perguruan tinggi

ilustrasi - lokerseni.web.id
Bulan Juni-Juli adalah bulan yang sibuk bagi orang tua yang anaknya baru menyelesaikan pendidikan di berbagai tingkatan dan akan melanjutkan ke jenjang berikutnya. TK lanjut ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA dan SMA ke perguruan tinggi (PT). Selain sibuk mempersiapkan biaya, juga tak kalah 'heboh' adalah mencari sekolah / PT yang sesuai keinginan dan juga 'pas' di kantong. Bukan rahasia lagi, biaya pendidikan saat ini bisa dikatakan mahal. Mungkin untuk biaya sekolah (SPP) bisa terjangkau, namun biaya yang timbul bukan hanya SPP, tapi uang sumbangan pembangunan (atau apa pun istilahnya seperti uang gedung, dana bantuan pendidikan, dll), dan setelah masuk nanti yang tak kalah penting adalah: biaya les atau tambahan pelajaran.

Sistem penerimaan siswa/mahasiswa baru yang berbeda antar sekolah/PT tidak jarang membingungkan siswa dan orang tua. Sekolah X menerima siswa baru dengan seleksi cukup dari nilai UAN/Unas. Sekolah Y dari test seleksi masuk. Tanggal pendftaran pun berbeda-beda. Ada yang sudah menerima pendaftaran bahkan sebelum UAN/Unas digelar. Dari cara penerimaan ini saja sudah menggambarkan tidak adanya standarisasi dalam tahapan 'melanjutkan' ke sekolah ke jenjang lebih tinggi.

Apalagi untuk masuk PT ada sekian banyak cara penerimaan yang dilakukan oleh perguruan-2 tinggi, bahkan antar PTN yang notebene 'milik negara' pun berbeda-beda. Dulu ada SIPENMARU yang terbuka diikuti oleh semua lulusan SMA/kejuruan, dengan membolehkan 2 (dua) pilihan fakultas/jurusan. Soal-soal SIPENMARU sama untuk semua daerah. Perbedaan ada pada standar penerimaan faklutas/jurusan di masing-2 PTN. Di luar SIPENMARU ada jalur Penelusuran Minat dan Ketrampilan (?) (PMDK) dimana siswa SMA dengan nilai rapor bagus dari kelas 1 hingga kelas 3 mendapat 'kehormatan' masuk PTN tanpa test. Tentu saja tidak semua sekolah mendapat 'jatah' jalur PMDK ini.

Tahun depan (2013) konon seleksi masuk PTN akan menggunakan nilai ujian akhir nasional (UAN/UNAS). Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana kredibilitas dan integritas pelaksanaan UAN/Unas? Dapatkah 100 persen dipercaya sebagai hasil optimal dari proses yang jujur? Selain itu dengan materi uji hanya berjumlah sekian puluh soal, apakah mencerminkan 'kemampuan' siswa untuk melanjutkan di jenjang perguruan tinggi tsb? Bukan rahasia lagi, bahwa pembelajaran anak sekolah saat ini lebih fokus pada bagaimana belajar mengerjakan soal-soal ujian. Selama setahun (2 semester) yang namanya 'try out' UAN bisa diikuti puluhan kali oleh siswa. Apakah mereka belajar memang hanya untuk itu?

Kalau try out dilakukan sungguh-2 untuk meraih hasil optimal secara fair tidak masalah. Yang jadi soal adalah ketika terjadi praktek tidak fair demi meraih nilai tinggi. Misalnya jual/belu jawaban yang biasanya terjadi. Bagaimana seleksi menuju PTN dikatakan fair apabila tidak memperhitungkan praktek curang ini? Kasihan mereka yang lebih pintar tapi juga jujur dalam mengerjakan UAN, namun ranking 'sedikit di bawah' mereka yang melakukan kecurangan, sehingga gagal masuk PTN.

Ini kekhawatiran yang umum saya kira. 'Kegalauan' positif yang menginginkan pendidikan negeri ini baik karena tidak ada peradaban yang maju tanpa pendidikan yang baik.




Rabu, 02 Mei 2012

Ke Serang, jangan lupa mengunjungi Masjid Agung Banten


Masjid Agung Banten

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Serang, ibukota propinsi Banten yang merupakan 'pecahan' atau pemekaran propinsi Jawa Barat. Ditemani seorang teman yang sedang mengerjakan proyek properti di Banten (Serang City -- thank to Firjon) dan driver yang asli Banten sehingga tahu peta jalan, saya mengunjungi beberapa tempat, salah satunya adalah peninggalan sejarah yang masih exist di Banten yaitu Masjid Agung Banten yang terletak di kota Banten lama. Ini pertama kalinya saya bisa sampai di kota Serang.

Saat saya berkunjung, tidak banyak 'peziarah' yang datang. Pedagang yang menempati lapak-lapak di sekitar masjid pun hanya beberapa yang buka. Mungkin karena masih suasana awal bulan puasa dan bukan hari libur sehingga tidak begitu ramai. Menurut informasi, justru menjelang Ramadhan masjid ini ramai dikunjungi para peziarah. Para pedagang di situ umumnya menjual asesoris-asesoris muslim seperti tasbih, peci/kopiah, dll. Juga aneka macam jajanan manisan/asinan untuk oleh-oleh. Sayang lapak-lapak yang terbuat dari kayu dan bambu tampak kumuh, sampah berserakan di sana-sini, sehingga mengganggu pandangan. Pengelola peninggalan sejarah yang menjadi salah satu obyek wisata ini sepertinya perlu menata kompleks di sekitar masjid agar pengunjung merasa nyaman. Akses jalan juga sempit. Demikian juga tempat parkir mobil belum memadai. 

Bagian dalam masjid
Tapi kondisi tersebut tidak mengurangi kekaguman pada masjid yang dibangun di abad 16 ini. Menara 'gemuk' yang kokoh berdiri mengingatkan saya pada buku sejarah (SMP?), karena foto masjid dan menaranya dimuat  dalam bab "Era Kerajaan Islam Nusantara". Meskipun sudah mengalami beberapa kali renovasi (1969, 1975, 1991 -- menurut prasasti yang dipasang di serambi masjid), jejak-jejak bahwa masjid ini adalah bangunan tua masih sangat kental terlihat. 
Tiang-tiang kayu yang kokoh, tembok yang tebal, mimbar untuk khotib, lampu-lampu antik dan makam di sebelah masjid serta menara yang tegak menjulang, juga bentuk arsitektur masjid dengan atap berundak-undak menjadi bukti kongkrit peninggalan berharga warisan kerajaan/kesultanan Banten. 

Kolam di depan masjid
Di depan serambi, ada empat kolam yang dahulu berfungsi sebagai tempat wudlu. Konon di kolam itu ada sumber mata air yang selalu mengalir, namun karena mata airnya banyak mengandung lumpur, kolam sudah tidak difungsikan sebagai tempat mengambil air wudlu. Masjid ini nama lengkapnya adalah Masjid Agung Sultan Banten Maulana Hasanudin biasa disebut Masjid Agung Banten. Alhamdulillah, saat berkunjung bertepatan dengan waktu sholat Dzuhur, sehingga saya pun berkesempatan bersujud di masjid bersejarah ini. 

Tentang sejarah Masjid Agung Banten sendiri, pasti sudah banyak ditulis orang. Untuk Anda saya nukilkan di sini salah satu tulisan sbb:

Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utaraKota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin(1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dariSunan Gunung Jati.
Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China yang juga merupakan karya arsitek Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.
Di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makamSultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.
Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid ini. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitekturBelanda kuno, bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat dan kajian Islami dilakukan di sini. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang pusaka.
Menara yang menjadi ciri khas Masjid Banten terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat daribatu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 km.
Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.(http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Banten)
Pintu masuk masjid - tembok tampak sangat tebal

Miniatur Masjid Agung Banten

Minggu, 29 April 2012

Menikmati Pesona Danau Sentani dari Monumen MacArthur


Pesona Danau Sentani_nayla salsabila
Saya sungguh bersyukur bisa mendapat tugas kantor ke berbagai penjuru nusantara, sehingga bisa menikmati keindahan berbagai belahan bumi katulistiwa ini. Koes Plus yang menciptakan lagu berjudul Nusantara sampai beberapa seri tidaklah salah, karena pesona nusantara memang sangatlah memukau. Salah satunya adalah pesona danau Sentani, di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Selain menikmati  pesona alam, juga tak terlupakan pengalaman kuliner: menikmati masakan khas suatu daerah di tempat asalnya. Sik asik ‘kan?

Salah satu kesempatan yang tidak pernah terlupakan adalah ketika bertugas di Papua. Dari semenjak mendengar kabar saya akan bertugas untuk memberikan pelatihan dan pendampingan di sana, langsung teringat sebuah danau yang fotonya pernah dikirim oleh seorang teman di Papua (Raymond – Tks a lot).

Dari sumber bacaan di http://mepow.wordpress.com, danau Sentani merupakan danau vulkanik, berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga di antara pegunungan Cyclops. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan dangkal, Puay dan Simporo. Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan substrat lumpur berpasir (humus). Pada per-airan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata 24,5 meter. Di sekitaran danau ini terdapat 24 kampung. Tersebar dipesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau.

Bagaimana menikmati keindahan danau Sentani? Saya datang ke tepian danau, dari jalan raya Jayapura - Sentani masuk ke selatan dengan jalan beraspal lebar dan halus. Malintasi jalan menuju tepian danau, kita melewati kebun (atau hutan?) sagu dan saya sempat melihat orang-orang yang sedang menebang dan memotong batang pohon sagu. Saya pun tak melupakan berfoto dengan salah satu dari mereka. Air danau membiru dengan ombak kecil menggoyang perahu kecil yang hendak menyeberang ke pulau kecil yang berpenghuni. Angin semilir menerpa wajah, sehingga sinar matahari siang itu tidak terasa menyengat kulit.

Namun sensasi terindah adalah menikmati pesona danau Sentani dari sebuah kawasan bukit bernama Ifar Gunung, dimana di situ terdapat monumen Jenderal Douglas MacArthur, seorang Jenderal tentara sekutu pada Perang Dunia II. Monumen itu berdiri di atas bukit di daerah bernama Ifar Gunung, yang belakangan lebih terkenal sebagai Bukit Makatur. Nah dari atas bukit itu, kita bisa melihat pesona danau Sentani, kota Sentani dan bandara Sentani.

Tugu monumen MacArthur

Ditemani seorang pegawai yang berasal dari Buton Sulawesi (Rusman) dan sopir dari Jayapura (keturunan Chinese Makasar, saya lupa namanya, tapi thanks untuk Merlin Nussy yang sudah merelakan sopir dan juga mobilnya untuk mengantar saya). Hanya butuh waktu sekitar 15 menit dari Sentani untuk mencapai monumen melewati  jalan yang mulus dan berkelok, namun sempit. Sebelum sampai di lokasi, kami melapor ke pos penjagaan kawasan Resimen Induk Kodam (Rindam) XVII Cendrawasih. Lokasi Bukit Makatur berada di dalam kawasan Rindam sehingga kita diharuskan melapor terlebih dahulu sebelum memasukinya. Kalau sedang ada latihan tentara, maka kita tidak diperbolehkan masuk kawasan.




Sepanjang jalan suasana terasa sejuk karena berada diantara pepohonan akasia yang rimbun. Di sebelah barat kelihatan Gunung Cyclops, yang puncaknya sering berkabut. Nah di sebelah selatan, atau kanan jalan menuju bukit sudah tampak danau Sentani dan kota Sentani serta bandaranya yang landasannya membujur sejajar dengan kota Sentani, memanjang dari barat ke timur. Jadi teringat sebelum pesawat mendarat, burung besi mengitari danau sehingga tampak pemandangan yang indah.





Di bukit Makatur ini terdapat situs Tugu MacArthur, sebuah tugu berwarna dasar hitam kuning bertahtakan pedang dan tongkat runcing atau tombak. Di tugu itu ada prasasti yang menerangkan secara singkat mengenai sejarah tempat ini. Terdapat juga bangunan kecil museum yang isinya menceritakan sepak terjang Jenderal MacArthur selama PD II. 







kota Sentani, landasan bandara, dan danau di 'belakang'nya
Dari bukit Makatur ini, yang tingginya 325 meter di atas permukaan laut (mdpl) kita dapat lepas melihat dengan jelas hamparan Danau Sentani, pulau-pulau kecil di tengahnya, perbukitan yang mengelilingi danau, dan juga pemandangan gunung Cyclops. Pesona danau dari berbagai sudut pandang sangat memukau. Danau Sentani dan beberapa pulau kecil di tengahnya terlihat begitu indah. Dari sini pula apabila ada pesawat tinggal landas atau take off, kita dapat melihatnya secara jelas. Menurut Poeloeng Catur, teman yang berdinas di Sentani, kita bisa membayangkan seperti kita sedang memainkan pesawat mainan dari kejauhan. Hmmm….






Prasasti MacArthu
Tengang biografi Jenderal Douglas MacArthur Anda bisa baca di link ini: http://id.wikipedia.org/wiki/Douglas_MacArthur ,  

Ada juga kisah kunjungan ke Ifar Gunung yang ditulis seorang Ibu dalam blog-nya. Dia yang juga berkunjung ke sana di sela-sela tugas kantor, sama seperti saya, namun sangat menarik Ibu ini menulisnya dengan melengkapi referensi tentang MacArthur, khususnya tentang sequel MacArthur sehingga membangun barak militer di Ifar Gunung Sentani, yang kemudian didirikan monument MacArthur di situ : http://edratna.wordpress.com/2007/08/14/napak-tilas-jejak-jend-mac-arthur-di-ifar-gunung-sentani/

Tidak hanya indahnya alam yang mengesankan saya dalam kunjungan ke Papua, tapi juga merasakan penghormatan yang sangat membanggakan dari rekan-rekan di sana, orang-orang di sekitar dimana saya tinggal sementara, dan keramah-tamahan yang luar biasa dari orang yang saya temui. Semua itu menjadikan saya ingin ke Papua lagi….

Jalan ke tepi danau halus... melintasi pohonan sagu

tampak kampung di pulau tengah danau

bersampan ke kampung pulau tengah danau

bersama penebang / pengolah sagu

aktifitas penebangan / pengolahan sagu

di Sentani masjid dan gereja berdampingan damai
Makan papeda
Kabut sering menyelimuti Sentani
Pusat Perbelanjaan Sentani
Jalan menuju Jayapura dari Sentani
Jalan ke bukit Makatur
tampak kampung di pulau tengah danau

prasasti MacArthur in 'bahasa'








Gunung Cyclops yang seringkali diselimuti kabut / awan

Sabtu, 28 April 2012

Melintasi Parakan: jejak tua kota lama

Seringnya saya melakukan perjalanan Purwokerto-Semarang, menjadikan Parakan sebagai kota yang makin terngiang di pikiran untuk tahu lebih jauh tentang kota ini. Melintasi kota ini selalu melihat dokar --alat transportasi tua -- yang masih berahan di kota ini. Terus melewati jalan sempit padat dengan bangunan kuno yang masih tampak jejak-jejaknya. Masjid, gudang, atau bangunan bekas toko dan rumah tinggal. Ada juga klenteng, jembatan kuno.

Ketertarikan saya mungkin karena pernah membaca di kota ini dilahirkan tokoh pejuang Mohamad Roem (penandatangan perjanjian Roem-Rojen). Kemudian pencarian lebih jauh tentang Parakan menemukan hal yang 'mencengangkan'. Bahwa para penabuh gamelan dari Parakan adalah para penabuh musik tradisional Jawa yang konon kemudian mengilhami musikus Perancis Claude Debussy menciptakan karya-karyanya. Ini saya baca di  http://warisanindonesia.com/2012/04/slamet-abdul-sjukur-hubungan-gelap-debussy-dengan-gamelan-jawa/  :
"Ceritanya, pada tahun 1889, ada l’exposition universelle sebagai peringatan 100 tahun Revolusi Prancis di penjara Bastille. Suatu festival besar-besaran diselenggarakan, termasuk didirikannya Menara Eiffel menandai peringatan sejarah tersebut. Belanda juga diundang ikut merayakan karena mereka punya koloni di Indonesia. Belanda memamerkan teh hasil perkebunan Parakan Salak, dan sebagai penggembiranya, orang orang dari perkebunan tersebut bermain gamelan bersama empat penari yang waktu itu masih berusia 14 tahunan. Menurut dokumen festival, Claude Debussy saban hari datang ke situ. Kagum." kata Tokoh Musik Kontemporer Slamet Abdul Sjukur.

Ya, Parakan, Kabupaten Temanggung memang kota yang diapit dua gunung: Sumbing dan Sindoro, yang lerengnya subur dan tempat tumbuh tanaman sayur-mayur, tembakau dan tentu saja teh.

Kota ini juga melegenda dengan Bambu Runcing, di mana banyak pejuang kemerdekaan melakukan 'penyepuhan' senjata tradisional bambu runcing agar 'bertuah' sebagai senjata melawan penjajah, dengan tokoh bambu runcing yang terkenal adalah KH Subchi (tentang ini silahkan baca: http://ahbabanas.blogspot.com/2011/04/kiai-dan-bambu-runcing.html?showComment=1335659927999#c7307086632608455409 ).

Maka saya pun, dari atas kendaraan, jeprat-jepret pada obyek yang menunjukkan jejak tua kota ini. Hasilnya jangan ditanya secara kualitas teknis gambar... :) saya hanya ingin mengabadikan di sepanjang lintasan yang dilalui, obyek-obyek  yang menunjukkan jejak-jejak lama Parakan.

dokar ngetem di depan pasar tradisional
Dokar di Parakan 'berebut' jalan dengan angkot
                                                    
jelang Parakan dari arah Wonosobo
                                                       
Masjid di Parakan yang pasti bersejarah
                
pemukiman padat tengah kota Parakan
                                                           
Bangunan tua Parakan yang tersisa
                                                           
Gudang tua - Jejak lama Parakan
Kota Perjuangan Hizbullah, namun agama / kebudayaan lain juga hidup
               
monumen di tengah kota Parakan

jembatan kuno, sayang ada mobil berpapasan ...

perbatasan Parakan - Bulu ... jembatan air atau kereta ya?

lereng gunung yang subur

gudang tembakau modern